Tepat 14 Februari, Tujuh Pelukis Gelar Pameran “Katresnan”

  • Whatsapp

MAGELANG, Jowonews.com – Pameran tujuh pelukis bertajuk “Katresnan” dengan pembukaan tepat saat Hari Kasih Sayang yang jatuh pada 14 Februari 2016 dan berlangsung sebulan ke depan, terlihat bukan hendak turut mempergaduh pro dan kontra masyarakat menyangkut perayaan tersebut.

Sebanyak tujuh pelukis dari Komunitas Tepi Barat dengan sebagian besar berasal dari Yogyakarta dan satu lainnya dari Magelang itu berlangsung di Galeri Pondok Tingal, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Bacaan Lainnya

Mereka yang menyuguhkan 27 karya lukis dalam pameran bersama bertajuk “Katresnan” (kecintaan atau kasih sayang) itu, adalah Asharai, Budi Arthe, Ekshan Cleot, Joko Atmaja, Nanang Nurcahyo, Nurfu Ad, dan Taufik Oblonk. Pameran dibuka oleh pengelola Hotel Plataran Borobudur Nigel dengan kurator pameran seorang penulis seni rupa dari Yogyakarta Heri Kris.

Berbagai karya mereka seolah ingin menggelar makna cinta kasih yang memang bersifat universal, bukan sekadar persoalan hubungan lelaki dengan perempuan, apalagi sekadar menyangkut hal ihwal hubungan seksualitas di antara dua kaum berjenis kelamin berbeda, yang sesungguhnya bisa dipahami sebagai relasi suci.

“Tema ‘Katresnan’ diangkat untuk memberikan tempat yang selayaknya terhadap nilai-nilai cinta kasih yang memang universal melekat dalam kehidupan semua makhluk, lebih-lebih manusia,” kata Ketua Panitia Pameran “Katresnan” Galeri Pondok Tingal Borobudur Hatmojo.

Ia mengatakan pameran dengan pembukaan pada 14 Februari itu juga menjadi inspirasi para perupa dalam memutuskan tema agenda mereka, “Katresnan”.

Mereka, ujar Hatmojo yang juga pelukis dan pegiat Gabungan Seniman Borobudur (Gasebo) itu, ingin mengatakan bahwa “katresnan” sebagai ihwal lumrah dalam kehidupan manusia.

“Dan tidak disalahpahami, disalahtingkahi menjadi perilaku menyimpang dari norma-norma sosial dan agama apapun. Bahwa setiap manusia memiliki semangat hidup kasih sayang,” katanya.

Ikhwal itu, muncul dalam karya yang dipamerkan dengan beragam corak, seperti abstrak, dekoratif, grafis, dan realis.

Salah satu karya yang dipamerkan, terkait dengan soal kesucian hubungan seksualitas yang sakral itupun terlihat hadir dalam lukisan berupa lingga yoni di dalam mangkuk warna putih bergambar seeokor ayam jago dan tanaman bunga dengan judul “Mitologi Lingga Yoni”. (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *