ACOMM jadi Film Pertama Indonesia Tembus Venice Festifal

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Film drama percintaan berlatar politik bertajuk “A Copy of My Mind” karya sutradara Joko Anwar menjadi film pertama asal Indonesia yang menembus festival film tertua di dunia (1932) yakni Venice Film Festival Italia.

“Tahun lalu, film itu diputar di Venice Festival Italia hingga 5-6 kali tayangan, lalu di Toronto International Film Festival (TIFF) Kanada juga beberapa kali pemutaran,” kata sutradara Joko Anwar dalam kuliah umum di Auditorium Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Rabu.

Didampingi produser Tia Hasibuan, ia menjelaskan ACOMM yang dibintangi Tara Basro, Chicco Jerikho, Ario Bayu, Maera Panigoro, dan Paul Agusta itu semula direncanakan tayang di bioskop pada Agustus 2015.

“Tapi, ACOMM ternyata masuk Venice Festival yang informasinya kami terima pada Juni 2015, sehingga tayang di bioskop tertunda hingga pertengahan Februari 2016, karena Venice Festival memang mensyaratkan film dalam festival itu belum pernah diputar dimanapun,” katanya.

Di hadapan mahasiswa dan dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra Surabaya itu, ia mengatakan ACOMM menceritakan seorang perempuan pekerja salon yang ingin memiliki “home theatre” dan akhirnya bertemu seorang laki-laki pembuat alih bahasa untuk DVD bajakan di Jakarta.

“Secara tak sengaja, pekerja salon bernama Sari itu memiliki pelanggan politisi yang akhirnya datang ke rumahnya dan Sari menemukan DVD yang menarik, lalu dibawa pulang, namun ternyata berisi rekaman pemufakatan jahat politisi untuk tindak korupsi, sehingga Sari dan pasangannya Alex menemui masalah pelik,” katanya.

Dalam kuliah umum bertajuk “Audio Visual” itu, sutradara yang sering menyutradarai film bertema kritik sosial itu mengaku dirinya tidak punya modal untuk membuat ACOMM.

“Akhirnya, saya dan Tia (produser) mencari dana ke luar negeri dengan mengirimkan ide film itu ke APM (Asian Project Market) yang merupakan bagian dari Busan Film International Film Festival. Acaranya diikuti 1.000-an proyek film dan akhirnya dipilih 20 APM yang dibiayai,” katanya.

Dari APM di Busan itu, mereka akhirnya menemukan investor yang mendanai filmnya Rp150 juta. “Modal segitu tentu tidak cukup, lalu kami menyiasati dengan mematangkan persiapan hingga delapan bulan mulai dari cari pemain, lokasi syuting, peralatan, dan sebagainya,” katanya.

Setelah itu, pihaknya melakukan syuting dalam delapan hari saja dengan melibatkan 20 kru dan hanya lima pemain. “Lokasi pun, kami pilih lokasi natural, seperti kos, pasar VCD bajakan, dan sebagainya. Setelah itu, kami melakukan pasca-produksi selama empat bulan, seperti memasukkan 36 lagu sebagai musik pengiring,” katanya.

Selain itu, pihaknya meminta kru dan pemain film untuk menandatangani kerja sama untuk tidak dibayar langsung, melainkan pihaknya menerapkan persentase royalti kepada semua kru dan pemain film bila ACOMM sudah tayang di bioskop.

“Itu tidak mudah, tapi kami memiliki leadership yang didasarkan kepercayaan dan keyakinan bahwa film yang dirancang akan menghasilkan hiburan yang membanggakan kami dan mungkin juga Indonesia. Jadi, itu film yang natural dan Indonesia banget,” katanya.

Dari kepercayaan dan keyakinan itu, pihaknya mau berbagai “ilmu” kepada generasi muda, termasuk di UK Petra Surabaya. “Kami tidak membuat film untuk sebuah nilai uang tertentu, tapi kebanggaan itulah yang penting. Untuk membiayai hidup, kami membuat iklan, film pendek, dan semacamnya yang ‘dibeli’ merek laptop, pasta gigi, televisi, dan sebagainya,” katanya.

Ia menambahkan kebanggaan itu akhirnya datang dengan adanya penghargaan kalangan internasional, termasuk maestro dunia dalam perfilman. “Jadi, jangan semata-mata mencetak uang, tapi mencetak karya. Apa yang kami hasilkan membuktikan masyarakat Indonesia juga bisa, apalagi ekonomi kreatif akan jadi lokomotif,” katanya. (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *