Ini Tindakan Darurat Tangani Gigitan Ular

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Kematian Irma Bule akibat digigit ular King Kobra “properti” atraksinya menyadarkan kalangan medis untuk membuat masyarakat memahami tindakan darurat menangani gigitan ular.

Aksi yang patut diteladani ditunjukkan Dr Tri Maharani, dokter spesial gawat darurat (emergency) dan pelatih gawat darurat di Universitas Brawijaya, Malang. Sejak 2011 memberikan komitmen untuk menolong para korban dengan melakukan sosialisasi penanganan pertolongan pertama terhadap kasus gigitan ular termasuk membagikan pengobatan dengan Serum Bisa Ular (Sabu) yang diimpor dari Thailand secara pribadi.

Bacaan Lainnya

“Harganya puluhan juta tetapi saya bagikan gratis untuk menolong pasien, saya lega bila melihat mereka sembuh,” ujar ketua Remote Envenomation Consultant Service (RECS) yaitu lembaga yang memberi layanan konsultasi media tentang penanganan hewan berbisa dan juga pengurus Heretplogi Indonesia.

Menurutnya, gigitan ular berbisa harus segera ditangani yaitu dengan menghambat penyebaran bisa (imobilisasi) pada aliran darah yang dapat dilakukan dengan membebat tekan pada daerah yang terkena gigitan dengan perban elastis serta dibuat tidak bergerak dengan spalk sebagai penguat dari kayu, bambu atau kardus.

Penanganan yang dilakukan untuk menolong Irma Bule itu salah, yaitu dengan diisap, karena tindakan tersebut justru bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

Selain diisap pada bekas gigitan, Irma Bule yang sedang tampil dalam pertunjukkan pada sebuah hajatan di Lemahhabang Wadas, Kerawang, Jawa Barat, pada 3 April itu masih dibiarkan menari lagi sebelum akhirnya pingsan dan dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong lagi.

”Pasien gigitan ular berbisa seharusnya langsung dibawa ke rumah sakit, kemudian bila tidak ada serum bisa ular maka dapat diberikan terapi oksigenasi bahkan ventilator,” ujarnya.

Menurut Dr Tri Maharani kasus gigitan ular yang membawa korban jiwa di Indonesia sangat besar, sayangnya banyak keluarga yang tidak melaporkan tetapi menerima kenyataan tersebut sebagai nasib buruk.

“Kasihan sekali mereka,” ujarnya.

Pasien yang terkena gigitan ular adalah orang-orang yang sehat dan bila bisa ditangani dengan baik maka dapat sehat kembali, mereka bukan pasien penyakit kronis.

Pada 2015 di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur tempat Dr Maharani berdinas terdapat 85 kasus, sedangkan kota-kota lain yang sering melaporkan kasus gigitan ulau antara lain Serang di Provinsi Banten, dan Papua dan banyak korban yang meninggal.

Dr Tri Maharani yang menggandeng komunitas penggemar ular, Sioux juga memberi sosialisasi kepada masyarakat awam dari siswa, mahasiswa dan juga di kalangan medis dan paramedis, selain juga memberikan layanan konsultasi gratis melalui “online”.

Berdasar pengalamannya, pasien kasus gigitan ular di Indonesia datang berobat sudah dalam keadaan kasip, sehingga Maharani semakin getol negkunjung ke pelosok untuk memberikan sosialisasi langsung ke masyarakat sebagai upaya pencegahan.

Tri Maharani berpendapat, pertunjukkan dengan memakai hewan berbisa seperti ular seharusnya memakai izin khusus seperti di negara-negara lain.

Irma Bule yang memiliki nama asli Irmawati, pedangdut asal Kerawang yang dikenal sebagai penghibur lokal, pada hari nahas itu tampil menyanyi dan berjoget dengan ular jenis King Kobra yang kemudian memagut paha kanannya, dan ditangani hanya dengan teknik isap oleh pawang (tindakan yang tidak dianjurkan lagi) bahkan masih melanjutkan atraksi untuk lagu berikutnya. (jn16-ant)


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *