Kesadaran Produk Halal Belum Membudaya

  • Whatsapp
SEMINAR INTERNASIONAL: Para pembicara seminar internasional ‘’The Role of Islamic Higher Education on Development of Halal System and Sharia Tourism in Indonesia’’ foto bersama dengan Direktur Pasca Sarjana UIN Walisongo Semarang, Prof Dr H Ahmad Rofiq MA (tiga dari kanan).
SEMINAR INTERNASIONAL: Para pembicara seminar internasional ‘’The Role of Islamic Higher Education on Development of Halal System and Sharia Tourism in Indonesia’’ foto bersama dengan Direktur Pasca Sarjana UIN Walisongo Semarang, Prof Dr H Ahmad Rofiq MA (tiga dari kanan).

SEMARANG, Jowonews.com – Ketua Komite World Halal Food Council  Dr Asrorun Ni’am, menegaskan masih belum terbudayanya kesadaran akan produk halal. Karena itu, apa yang digagas dan direncanakan oleh Pasca Sarjana UIN Walisongo, perku diapresiasi dan didukung.

‘’Syukur, UIN Walisongo dapat segera mendeklarasikan sebagai Pusat Sistem Jaminan Produk Halal dan Wisata Halal di Indonesia,’’ katanya.

Menurut Ahmad Rofiq,  sebagian   besar masih perlu upaya literasi halal, sejalan dengan prinsip mandatory atau kewajiban, sebagai amanat dari UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Rofiq  mensinyalir bahwa UU Jaminan Produk Halal tersebut, meskipun cukup lama, lebih dari delapan   tahun berproses   di   DPR, namun kelahiran UU  tersebut, merupakan fakta yang menunjukkan betapa pentingnya adanya sistem jaminan halal, baik produk yang dikonsumsi maupun yang digunakan.

‘’Agak ironis memang, karena di Indonesia ini, kala berbicara tentang produk halal dan wisata halal,  masih sering dibaca dalam perspektif politik, bukan bisnis. Maka tidak heran, jika Jepang akan mendeklarasikan Kiyoto sebagai kota halal. Singapura, bahkan sudah menetapkan sebagai Center World Halal,’’ kata Rofiq yang juga Wakil Ketua Umum MUI Jateng itu.

Pasca Sarjana UIN Walisongo berencana membuka program studi Sistem Jaminan Halal dan Wisata Syariah untuk program magister dan doktor. Meskipun, disadari bahwa respon ini, relatif terlambat, namun mengingat di Indonesia, belum ada PTKIN yang secara formal terlibat di dalam persoalan yang secara bisnis, ini sangat menjanjikan. (Jn01/jn03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *