Sensasi Mencumbu Hiu di Banyuwangi ….

  • Whatsapp

Devi, mahasiswi asal Malang, menjerit saat tangannya ditarik oleh rekan-rekannya agar ikut mencemplung ke keramba ukuran sekitar 4 x 4 meter yang dihuni sekitar empat ekor ikan hiu serta ratusan ikan hias berwarna-warni.

“Ayo, masa kamu takut, anak kecil saja berani,” kata rekan-rekannya sambil terus membujuk agar gadis berkulit putih itu sambil menunjuk seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun yang tanpa rasa takut justru tampak riang melihat beberapa ekor hiu melintas di hadapannya.

Bacaan Lainnya

Meski diberi semangat oleh beberapa rekannya yang berada di pinggir, Devi masih tetap saja tidak mampu mengusir rasa takut, dan hanya bisa terpaku sambil menatap ikan hiu yang meliuk-liuk di antara beberapa orang yang sudah terlebih dahulu masuk karamba.

Ukuran hiu tersebut sebenarnya tidak besar, hanya memiliki panjang sekitar antara 30 cm dan 50 cm. Akan tetapi, kesan hiu sebagai predator ganas di tengah laut, tetap saja membuat Devi ciut karena kakinya terluka dan mengeluarkan darah setelah menginjak karang tajam di pinggir pantai.

“Saya dengar ikan hiu bisa menjadi agresif setelah mencium bau darah. Bagaimana kalau tiba-tiba hiu itu mengamuk?” kata Devi memberikan alasan.

Sensasi berenang bersama ikan hiu hanyalah salah satu atraksi yang ditawarkan oleh pengelola wisata di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dan menjadi favorit masyarakat setempat untuk menghabiskan masa libur Lebaran 2016. hiu3

Ikan hiu yang ada di keramba dan berada di Rumah Apung sebenarnya hanyalah sebagai latar belakang bagi mereka yang ingin tampak terlihat “gagah” saat berfoto bersama hiu.

Yang dimaksudkan dengan rumah apung bukanlah deretan perkampungan rumah terapung milik para nelayan tradisional seperti yang dibayangkan banyak orang, melainkan sebuah penangkaran ikan hiu berukuran sekitar 7 meter x 30 meter yang berada sekitar 30 meter dari bibir pantai.

Di Rumah Apung, pengunjung bisa menikmati ikan berbagai warna ukuran yang melintas. Agar ikan-ikan tersebut mendekat, pengunjung yang sudah melengkapi diri dengan peralatan skorkeling harus menyebarkan beberapa potong roti.

Nama “Rumah Apung” menurut Abilillah, petugas wisata, bukan diberikan oleh pengelola, melainkan oleh pengunjung agar lebih mudah untuk mengingatnya sehingga lambat laun menjadi “trade mark” wisata Pantai Bangsring.hiu4

Pengelola wisata Pantai Bangsring menyuguhkan beberapa atraksi yang bisa dipilih oleh wisatawan. Selain snorkeling yang menjadi semacam menu wajib, juga ada perjalanan menikmati keindahan pasir putih dan air yang bening di beberapa pulau sekitar.

Untuk sekadar snorkeling di bibir pantai, panitia hanya mengutip biaya sebesar Rp30 ribu untuk sewa alat, sementara perjalanan ke Pulau Tabuhan yang bisa dijangkau dalam waktu 45 menit, pengunjung harus membayar Rp850 ribu untuk sepuluh orang. Harga tersebut sudah termasuk sewa alat snorkeling, jasa pemandu, dan dokumentasi.

Pengunjung yang datang dalam rombongan kurang dari sepuluh orang disarankan untuk mencari orang lain yang mau berbagi agar bisa menekan harga.

Berbeda dengan tempat wisata pantai lainnya, pengelola sama sekali tidak mengutip uang masuk. Pengunjung hanya diwajibkan untuk menyewa peralatan kalau memang ingin menikmati keindahan bawah laut, biaya parkir, kamar bilas dengan “shower”, atau sekadar menikmati air kelapa muda.

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada masa libur, Pantai Bangsring selalu dibanjiri sedikitnya 3.000 wisatawan, tidak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga beberapa daerah lain di Indonesia, termasuk beberapa wisatawan asing.

Pada awalnya, lokasi tersebut sebenarnya bukan untuk wisata, melainkan sebagai penangkaran ikan hiu dan kawasan konservasi terumbu karang yang hancur akibat bom ikan.

Seiring dengan perjalanan waktu, Rumah Apung makin dikenal dan sering dikunjungi, membuat kelompok nelayan mulai serius mengelola meski secara swadaya. Warung-warung yang menjual berbagai macam makanan pun bermunculan, tempat parkir diperluas dan kamar mandi untuk bilas diperbanyak.

Tawaran Investor Sukirno, pengelola Pantai Bangsring, mengatakan bahwa para investor pun mulai melirik usaha mereka dan mengulurkan kerja sama untuk pengembangan agar ditata secara lebih profesional. Akan tetapi, tawaran tersebut ditolak.

“Kami ingin tetap agar tempat ini dikelola oleh kami yang tergabung dalam kelompok nelayan. Kalau nanti dikelola investor, keuntungan lebih besar tentu untuk mereka, sementara kami dapat apa?” katanya.

Bahkan, Sukirno dan rekan-rekannya sesama anggota kelompok Samudera Bakti tidak berusaha untuk mempromosikan usaha wisata tersebut karena tujuan semula adalah wilayah konservasi terumbu karang yang rusak akibat bom ikan, bukan sebagai usaha wisata.

Meski demikian, dengan kondisi seperti sekarang ini, masyarakat nelayan di Bangsring mendapatkan relatif banyak manfaat berkat pengelolaan wisata Rumah Apung, seperti lahan parkir, jasa kamar bilas dan toilet, penjual makanan, serta usaha lainnya.

Sebagai penghargaan terhadap kreativitas warga Bangsring yang berhasil menjadikan desa mereka sebagai tujuan wisata yang digemari wisatawan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun ikut mempromosikan Rumah Apung dengan menggelar Festival Bawah Laut pada bulan Mei lalu. hiu2

Terletak sekitar 25 km di utara Kota Banyuwangi, pada awalnya agak sulit untuk menemukan lokasi wisata yang dikelola secara swadaya kelompok oleh nelayan yang menamakan diri Bangsring Under Water (Bunder) itu.

Hampir tidak ada papan nama mencolok atau promosi melalui “billboard” sehingga harus bertanya berkali-kali kepada warga sekitar untuk menanyakan keberadaan lokasi wisata yang lebih dikenal dengan nama Rumah Apung.

Dari arah Kota Banyuwangi, Desa Bangsring dapat dicapai setelah menempuh perjalanan kurang dari 1 jam, tergantung pada kondisi lalu lintas.

Setelah melewati Pelabuhan Ketapang, pengunjung mengambil jalur arah Situbondo di utara, melewati Pantai Watudodol.

Satu-satunya penunjuk jalan hanyalah sebuah plang kecil terbuat dari papan putih bertuliskan Basring Under Water dengan gambar panah menuju arah pantai sekitar 1 kilometer. Sebuah jalan kecil berbatu dan berukuran satu mobil minibus akan menuntun menuju lahan parkir Pantai Bansring. jn16-ant

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *