Bencana Tanah Retak Ancam Pemukiman Warga 7 Kecamatan di Wonogiri

  • Whatsapp
Jalan amblas tersebut berada di Desa Darupono Kecamatan Kaliwungu Selatan ini. Kondisinya, sangat fatal jika. Pengguna harus ekstra hati-hati
Jalan amblas tersebut berada di Desa Darupono Kecamatan Kaliwungu Selatan ini. Kondisinya, sangat fatal jika. Pengguna harus ekstra hati-hati

WONOGIRI, Jowonewscom – Peristiwa bencana alam tanah retak mengancam pemukiman warga di 7 desa yang berada di 7 kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Yakni di Desa Padarangin Kecamatan Slogohimo, Desa Sendang (Wonogiri Kota), Bero (Manyaran), Gedawung (Kismantoro), Bakalan (Purwantoro), Ranggajati (Batuwarno) dan Sempukerep (Sidoharjo).

Di Desa Padarangangin, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri, bencana tanah retak telah merusak rumah milik Suyadi (49). Lokasinya di RT 3/RW 4 Desa Padarangin, celah keretakannya membelah dinding dan lantai rumah, memanjang 75 Cm sampai ke pekarangan di luar rumah.

”Untuk pengamanan darurat, penghuni rumah diungsikan ke rumah saudaranya, dan diupayakan menutup celah rekahan tanah agar tidak meluas,” jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Bambang Haryanto, Senin (5/12).

Di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri Kota, tanah retak terjadi di kawasan RT 2/RW 4 Dusun Selopukang. Setidak-tidaknya ada 16 rumah warga yang pecah-pecah pada dinding temboknya dan tegel lantainya. Dampak dari adanya pergerakan tanah, juga menyebabkan kerusakan pada badan jalan dusun yang telah dicor dengan beton.

Badan jalan yang telah diperkeras dengan cor beton tersebut, sebagian ‘mumbul’ (bergerak ke atas) dan sebagian ambles ke bawah, sehingga menjadi tidak rata lagi. ”Lantai teras rumah saya juga begitu, retak dan ambles,” ujar Triyono.

Kawasan pemukian warga Dusun Selopukang, berada di lereng perbukitan Gajahmungkur. Riyanto, menyatakan, Dusun Selopukang dihuni sekitar 70 warga. Dari jumlah tersebut, 16 rumah terkena dampak bencana tanah retak. ”Warga di sini dililit kekhawatiran manakala turun hujan berkepanjangan,” ujarnya.

Warga berencana akan kerja bhakti massal, untuk membuat parit di sisi atas lereng, guna mengantisipasi perembesan melalui retakan, yang itu dikhawatirkan dapat memicu terjadinya longsor.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pengairan Energi Sumber Daya Mineral (PESDM) Kabupaten Wonogiri, Arso Utoro, menyatakan, di Dusun Selopukang telah dipasangi alat Early Warning System (EWS) oleh Dinas ESDM Provinsi Jateng. Fungsinya, untuk memonitor terjadinya pergerakan tanah. Alat EWS ini, tambah Arso, juga dipasang di sejumlah titik lain di Kabupaten Wonogiri, yang rawan terjadinya pergerakan tanah. Yakni di KecamatanPurwantoro, Kismantoro dan Tirtomoyo.

Kepala BPBD Kabupaten Wonogiri, Bambang Haryanto, menyatakan, peregarakan tanah di Desa Gedawung Kecamatan Kismantoro, telah menyebabkan badan ambles sedalam 50 Cm memanjang 70 meter. Lokasi badan jalan yang mables, berada di lintas jalan antarprovinsi Wonogiri (Jateng)-Pacitan (Jatim), yakni di ruas Kecamatan Kismantoro (Wonogiri)-Kecamatan Bandar Pakisbaru (Pacitan).

Dampak dari amblesnya jalan tersebut, menyebabkan hubungan darat nyaris terputus. Untuk mengentisipasinya, pihak Bina Marga PU Provinsi Jateng, kini tengah melakukan pengurukan dan pemadatan di lokasi badan jalan yang ambles. Selama perbaikan berlangsung, arus lalu lintas menjadi tersendat, karena diberlakukan pengaturan buka tutup. (jn03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *