Kekerasan Anak dan Perempuan di Semarang Tinggi

  • Whatsapp
ILUSTRASI

SEMARANG, Jowonews.com – Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Semarang selama tiga tahun terakhir masih sangat tinggi. Hal ini terlihat dari laporan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Semarang.

“Yang muncul ke permukaan atau yang diadukan mengalami kenaikan,” kata Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Semarang Bombong Yogatama di sela Penyusunan SOP Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kota Semarang, Selasa, (6/12).

Dikatakan, laporan tindak kekerasan yang terjadi selama 2014 sebanyak 264 kasus, naik menjadi 285 kasus pada tahun 2015. Hingga November 2016, lanjutnya, laporan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah mencapai sekitar 240 kasus.

Menurut dia, kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak sesungguhnya masih cukup banyak, terutama yang tidak dilaporkan secara resmi. “Seperti fenomena gunung es, yang belum dilaporkan sesungguhnya sangat banyak,” katanya.

Ia menjelaskan tren kekerasan tersebut terjadi mulai dari kekerasan fisik hingga yang bermula dari media sosial. Pemerintah Kota Semarang sendiri sudah memiliki beberapa upaya untuk membantu para korban kekerasan tersebut. Dicontohkan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Seruni serta yang terbaru yakni Rumah Duta Revolusi Mental.

Ia menuturkan tidak hanya membantu fasilitasi penanganan kasus kekerasan, lembaga-lembaga tersebut juga akan turun tangan, misalnya dengan memberi perlindungan terhadap para korban.
“Dalam Perda tentang Perlindungan Perempuan dan Anak sudah dijelaskan bahwa pemerintah wajib membantu mulai hulu hingga hilir,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Muhibbin banyaknya kekerasan terhadap perempuan dan anak ini terjadi karena pelaksanaan aturan di lapangan yang belum maksimal.
“Kekerasan tidak hanya terjadi di rumah, tetapi juga di jalanan,” imbuhnya.

Melalui penyusunan SOP ini, lanjut dia, diharapkan paling tidak bisa mengurangi angka kejadian kekerasan. “Paling tidak mengurangi, kalau menghilangkan sama sekali tidak,” tambahnya. (jn19/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *