Puncak Hujan Jateng Bagian Tengah Diprediksi Pertengahan Januari

  • Whatsapp

CILACAP, Jowonews.com – Wilayah di pegunungan tengah Jawa Tengah diprakirakan memasuki puncak musim hujan pada bulan Januari 2017.

Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan, ilayah yang berada di pegunungan tengah Jateng, antara lain, Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Pemalang bagian selatan, dan Pekalongan bagian selatan, termasuk Cilacap bagian utara.

Ia memprakirakan curah hujan pada bulan Januari di wilayah pegunungan tengah mencapai di atas 500 milimeter.

Oleh karena itu, dia mengimbau warga di wilayah pegunungan tengah, khususnya yang bermukim di daerah rawan longsor, untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana tersebut.

“Jika ada rekahan tanah, segeralah ditutup agar tidak makin lebar dan mengakibatkan longsor. jika terjadi hujan lebat dalam waktu lama, segeralah mengungsi ke tempat yang aman agar terhindar dari longsor,” katanya.

Untuk wilayah di pesisir selatan Jateng, khususnya Cilacap, kata dia, curah hujan pada bulan Januari diprakirakan berkisar 300 sampai dengan 400 milimeter, sedangkan Cilacap bagian tengah diprakirakan berkisar 400 s.d. 500 milimeter.

“Untuk Kabupaten Banyumas, diprakirakan berkisar 400 s.d. 500 milimeter, seperti Cilacap bagian tengah,” jelasnya.

Menyinggung soal realisasi curah hujan pada bulan Desember di kota Cilacap, Teguh mengatakan bahwa secara akumulatif relatif normal karena hanya sebesar 493 milimeter.

Dalam kondisi normal, kata dia, curah hujan pada bulan Desember di kota Cilacap berkisar 300 s.d. 500 milimeter.

Menurut dia, kondisi cuaca pada bulan Desember di kota Cilacap dipengaruhi siklon tropis Yvette sehingga sempat tidak terjadi hujan dalam beberapa hari.

“Namun, setelah siklon tropis Yvette menghilang, hujan turun kembali hingga sekarang,” katanya.

Ia mengatakan bahwa saat ini kondisi cuaca di wilayah Jateng, khususnya bagian selatan, dipengaruhi dua daerah pusat tekanan rendah yang muncul di Australia bagian utara dan Samudra Hindia barat daya Sumatra.

Menurut dia, tekanan udara di daerah pusat tekanan rendah yang muncul di Australia bagian utara saat ini mencapai 998 milibar, sedangkan di Samudra Hindia barat daya Sumatra sebesar 1.006 milibar.

Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut berdampak pada peningkatan curah hujan terutama di wilayah timur Indonesia.

“Kami akan terus memantau perkembangan daerah pusat tekanan rendah di utara Australia. Jika daerah pusat tekanan rendah itu bergerak ke arah timur (laut, red.) kemungkinan akan menjadi bibit badai,” imbuhnya. (Jn19/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *