Ganti Nama, Festival Masakan Babi Tetap Digelar di Sriratu Pemuda

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Meski mendapat reaksi keras dari Forum Umat Islam Semarang, festival makanan olahan daging babi atau Pork Festival tetap akan digelar di Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang, 23-29 Januari. Untuk menyiasati, panitia hanya mengganti nama menjadi Festival Kuliner Imlek.

Pergantian nama tersebut juga merupakan hasil audiensi antara panitia penyelenggara dengan FUIS di Mapolrestabes Semarang. Disamping itu juga masukan dari kepolisian agar kondusifitas Kota Semarang tetap terjaga.

Polisi juga siap memberikan pengamanan dalam penyelenggaraan Festival Kuliner Imlek tersebut. Apabila ada pihak yang akan mengganggu/menghalangi terselenggaranya acara, akan ditindak tegas.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, mengatakan, kegiatan tersebut akan diperbolehkan untuk diselenggarakan oleh panitia. Terlebih acara tersebut hanya digelar saat Imlek saja dan tempatnya juga akan dipisahkan atau diberi tanda khusus.
“Pada prinsipnya diperbolehkan. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sah dan tidak melanggar undang-undang. Tapi dengan catatan tempat itu dipisahkan dan diberikan petunjuk khusus. Kami juga memberi masukan kepada panitia dan pihak yang menolak untuk mengganti nama. Tadi sudah ada audiensi di ruang Kasat Intel,” katanya saat ditemui di Mapolrestabes Semarang, Jumat (20/1).

Abiyoso menjelaskan, selain tidak melanggar undang-undang, diperbolehkannya acara tersebut juga untuk menjaga toleransi antarumat beragama di Semarang. Pihaknya mengedepankan prinsip saling menghargai karena di Indonesia ada beberapa agama yang diakui oleh negara.

“Kita mengakui ada beberapa agama. Kita harus saling menghormati untuk menjaga toleransi antarumat beragama. Jangan saling mengganggu,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pork Festival 2017, Firdaus Adinegoro, mengaku harus mengganti nama Pork Festival menjadi Festival Kuliner Imlek. Hal itu sesuai dengan hasil mediasi dengan ormas Islam yang sempat melakukan penolakan dan meminta melakukan perubahan nama. Menurut Firdaus, penolakan dan penggantian nama tersebut cukup disayangkan.

“Mereka keberatan namanya Pork Festival. Makanya namanya diganti jadi Festival Kuliner Imlek. Kita sayangkan karena nama awal itu sudah jelas, tetapi harus diubah dan menjadi abu-abu. Padahal acartanya jelas menjual menu babi yang diharamkan dalam agama Islam. Apalagi ini juga terkait perayaan Imlek,” ujar Firdaus yang juga ketua Komunitas Kuliner Semarang tersebut, kemarin.

Untuk itu, Firdaus mengimbau kepada masyarakat yang beragama Islam untuk tidak datang ke acara Festival Kuliner Imlek di Sri Ratu. Pasalnya acara tersebut akan tetap dijalankan demi menghormati warga Tionghoa yang ingin mencicipi menu olahan daging babi. Selain itu acara tersebut juga sudah tersebar ke banyak daerah termasuk luar negeri.

Lebih lanjut, Firdaus menyatakan bahwa konsep acara festival kuliner tersebut tetap sama seperti rencana awal. Hanya namanya saja yang berubah. Pada festival tersebut akan disediakan 30 stand yang menyuduhkan menu makanan olahan daging babi.
“Konsep tetap sama, tidak berubah. Nanti akan ada stand-stand yang menjual makanan olahan daging babi. Setiap stand menjual menu dengan kisaran harga Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu,” paparnya.

Untuk diketahui, dalam audiensi di Mapolrestabes Semarang tertuang dalam surat pernyataan yang ditandatangi oleh FUIS dan Panitia Pork Festival. Pihak FUIS diwakili oleh M Jumai, sedangkan pihak panitia adalah Firdaus Adinegoro.(Jn01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *