Dewan Minta Semua Pihak Jaga Kebinekaan

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Ancaman terhadap kerukunan umat beragama yang terjadi pada saat sekarang ini tidak lepas dari menipisnya kesadaran akan kerukunan beragama sebagaimana yang sudah diimplementasikan melalui komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secara nasional, komitmen itu seharusnya sudah selesai pada saat meletakkan Pancasila dan UUD 1945 serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Ketua DPRD Jateng Rukma Setya Budi, menyerukan hal tersebut menanggapi maraknya hasutan dan pesan melalui media sosial yang bermuatan kebencian. Menurutnya, kesepakatan terhadap kebinekaan semestinya sudah selesai melalui komitmen untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945.”Saat ini marak ujaran bermuatan kebencian dan hasutan, yang akan mengganggu kerukunan berbangsa dan beragama. Padahal negara Indonesia adalah bangsa yang majemuk,” tukasnya, Rabu (1/2/2017) di Semarang.

Dikatakan, suku bangsa di Indonesia jumlahnya mencapai angka ribuan. Kemajemukan itu semestinya menjadi bukti kekayaan bangsa Indonesia. Keragaman bahasa dan budaya jangan sampai menjadi alat perpecahan bangsa yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Rukma mengemukakan, peran pemerintah sangat penting dalam mengatasi persoalan tersebut. Pengaruh-pengaruh negatif yang memecah belah bangsa akan mengganggu kerukunan atas kemajemukan Indonesia yang sudah menjadi ciri khas bangsa. ”Kita sangat terganggu dengan muatan kebencian yang saat ini tersebar melalui medsos, dan ujaran-ujaran bernuansa hasutan yang membahayakan bagi kelangsungan kerukunan bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Rukma mendesak kepada pemerintah untuk mengambil langkah tegas terhadap upaya-upaya yang berusaha untuk membawa perpecahan bangsa tersebut. Dia yakin jika paham-paham yang disebarkan melalui ujaran kebencian tersebut, tidak berasal dari Indonesia yang damai. ”Saya yakin paham-paham itu berasal dari pihak luar dengan tujuan memecah belah bangsa demi kekuasaan mereka,” tandasnya.

Dia meminta pemerintah mengambil peran untuk hadir dalam mengatasi permasalahan menyangkut stabilitas bangsa dan negara tersebut. Melalui peran tersebut, negara diharapkan bergerak cepat dan dengan tindakan hukum. Sehingga, ujaran kebencian yang saat ini tersebar dengan cepat melalui media sosial dapat diminimalisir.

Kondisi di Jateng saat ini, lanjutnya, sudah cukup kondusif dan damai. Provinsi Jateng dikenal adem ayem dengan suasana sosial, ekonomi dan budaya serta akulturasi berbagai suku serta etnis yang sangat baik. Dia berharap semua pihak dapat menjaga kerukunan tersebut, sehingga Jateng yang damai dapat diwujudkan.

Rukma tidak memungkiri jika Jateng pun tak lepas dari target perpecahan umat. Dia menemukan masukan apabila paham-paham radikal yang bertujuan memecah belah umat itu justru marak di kampus. Kampus yang notabene adalah tempat bagi kaum intelektual, tidak lepas dari sasaran pemecah belah umat.”Sangat disayangkan, karena kampus adalah tempat kaum intelektual dimana masa depan bangsa ada di sana,” ujarnya. 

Oleh karena itu, Rukma menyerukan kepada kaum intelektual untuk mengembalikan falsafah kebangsaan kepada ke-Indonesiaan, bukan paham-paham barat, Amerika, atau Suriah. Indonesia adalah nusantara, dengan keragaman budaya dan suku, serta etnis dan agama. Dia mengajak kepada semua pihak untuk bergotong royong dalam menahan paham-paham radikal yang tidak sesuai dengan falsafah bangsa tersebut.”Banyak celah yang dimanfaatkan untuk memecah bangsa, kita harus sadari dan antisipasi itu,” tegasnya.

Salah satu hal yang saat ini diperjuangkan wakil rakyat adalah mendesak kepada pemerintah untuk kembali menanamkan nilai-nilai luhur bangsa melalui pendidikan budi pekerti sejak dini di usia sekolah. Sudah lama bangsa ini dijauhkan dari budi pekerti sehingga akhlak dan moralnya pun menjadi sempit. ”Moralitas generasi muda harus menjadi prioritas kita, ini harus kita kedepankan mulai sekarang,” pungkasnya. (adv/jn01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *