Kenaikan Biaya Administrasi STNK Picu Inflasi

  • Whatsapp
ilustrasi

SEMARANG, Jowonews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah menyatakan sumbangan tertinggi inflasi berasal dari biaya administrasi perpanjangan STNK yang mencapai 0,3359 persen, disusul oleh tarif pulsa listrik 0,1786 persen.

Menurut Kepala BPS Jawa Tengah Margo Yuwono, kenaikan biaya administrasi perpanjangan STNK membuat inflasi Jawa Tengah pada Januari 2017 mencapai 1,16 persen, atau lebih tinggi dibandingkan angka inflasi nasional 0,97 persen.

Bahkan, inflasi Jawa Tengah pada Januari tersebut juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi Desember yaitu 0,56 persen, dan inflasi Januari 2016 yang 0,58 persen.

Dia mengatakan, inflasi tersebut tidak dapat dihindari mengingat sebagian dari sejumlah komoditas penyumbang inflasi terbesar berasal dari “administered price” atau tarif yang ditentukan oleh pemerintah.

Untuk komoditas cabai yang dari awal diprediksi oleh sejumlah pihak memberikan dampak cukup besar terhadap inflasi, menurut dia, justru tidak terbukti. Sumbangan komoditas cabai terhadap inflasi di Jateng pada Januari 2017 tidak terlalu besar.
“Dari data kami, sumbangan komoditas cabai terhadap inflasi hanya 0,1312 persen. Pada dasarnya komoditas cabai ini memberikan dampak terhadap inflasi di hampir seluruh daerah di Indonesia. Kondisi ini terjadi karena suplai yang tidak cukup akibat hujan. Distribusi juga barangkali menjadi persoalan di Jawa Tengah,” katanya di Semarang, Rabu (1/2).

Meski demikian, Margo berharap kenaikan komoditas itu tetap diperhatikan sebelum berdampak negatif terhadap inflasi ke depan.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan, laju inflasi Januari 2017 sebesar 0,97 persen dipengaruhi oleh harga diatur pemerintah (administered price) seperti kenaikan biaya administrasi STNK maupun penyesuaian tarif listrik.

“Inflasi Januari lebih dipengaruhi oleh inflasi dari ‘administered price’ yang pada Januari mencapai 2,57 persen, antara lain kenaikan biaya administrasi STNK, penyesuaian tarif listrik 900 VA, kenaikan harga BBM dan rokok,” kata Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (1/2).

Suhariyanto menjelaskan dengan inflasi Januari 2017 tercatat sebesar 0,97 persen, maka inflasi tahun kalender mencapai 0,97 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (year on year) 3,49 persen.

“Meski inflasi Januari 2017 lebih tinggi dari 2015 yang tercatat deflasi 0,24 persen dan inflasi 2016 sebesar 0,51 persen, inflasi tahunan 2017 lebih rendah dari inflasi 2015 sebesar 6,96 persen dan inflasi 2016 sebesar 4,14 persen,” katanya.

Ia menambahkan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan menjadi penyumbang tertinggi inflasi pada Januari yaitu mencapai 2,35 persen, karena kenaikan biaya administrasi perpanjangan STNK, tarif ponsel dan bensin.

Kelompok lainnya yang menyumbang inflasi adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,09 persen akibat kenaikan tarif listrik untuk 900 VA dan tarif sewa rumah.

Meski beberapa komoditas pangan mengalami penurunan pada Januari 2017, kelompok bahan makanan ikut menyumbang inflasi yaitu hingga 0,66 persen.

“Secara umum, inflasi bahan makanan masih terkendali harganya, namun ada yang mengalami kenaikan yaitu cabai rawit dan ikan segar. Sementara, komoditas yang menahan inflasi adalah cabai merah dan bawang merah,” ujar Suhariyanto.

Secara keseluruhan, kelompok yang juga ikut menyumbang inflasi adalah kelompok kesehatan 0,5 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,47 persen, kelompok sandang 0,33 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,12 persen.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), seluruhnya menyumbang inflasi pada Januari 2017, dengan inflasi tertinggi terjadi di Pontianak 1,82 persen dan terendah terjadi di Manokwari 0,09 persen.(jn22/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *