Pesan dari Hari Kanker Seluruh Dunia

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Tubuh perempuan itu sudah didiami tumor sejak tahun 2008, yang kemudian coba diangkat dengan operasi. Tapi penyakit ganas itu selalu kembali lagi dan lagi, hingga saat ini.

Wiwiet Nugrahani (55), penyintas kanker ovarium itu mengisahkan cerita awal mula hingga perjuangannya bertahan dengan kanker, seperti sedang bercerita tentang liburan di akhir pekan.

Padahal apa yang dijalankannya selama lebih dari 10 tahun untuk merawat kehidupannya setelah mengetahui ada kanker dalam tubuhnya sama sekali bukan masalah kecil.

Jika Anda wanita, coba bayangkan operasi pengangkatan ovarium pada usia 40-an, namun ternyata kanker itu sudah menjalar pada getah bening.

Lalu ia menjalani pengobatan kemoterapi secara berkala, tapi dua tahun kemudian kanker itu muncul lagi. Berpikir tenaga kesehatannya kurang mumpuni, bergantilah pada dokter yang sudah profesor tapi solusinya masih tetap kemoterapi.

Dua tahun kemudian kanker itu kambuh lagi. Ia berpikir tempat berobatnya kurang optimal, maka pergilah ke negeri China untuk berupaya dan berharap kesembuhan. Namun setelah tiga tahun lagi-lagi kanker itu kembali, kemudian kemoterapi lagi.

“Sampai lima kali kambuh,” kisahnya, tapi seperti tidak ada rasa penyesalan di nada suaranya.

Wiwiet yang tergabung dalam kelompok pendukung di “Cancer Information and Support Center” (CISC) mengidap kanker ovarium yang menjalar ke bagian tubuh lainnya. Dia mengakui salah satu faktor yang membuat kanker begitu cepat berkembang ialah karena menunda.

Seringkali, penyebab tingginya angka pengidap serta angka kematian karena kanker adalah pengobatan yang terlambat. Kanker tidak diketahui dan tiba-tiba muncul sudah pada stadium yang membahayakan.

“Mengerti bahwa deteksi dini mampu menyelamatkan jiwa.” Itulah salah satu pesan yang ingin ditekankan pada Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari.

Setiap orang, baik secara bersama atau individual bisa mengambil peran dalam mengurangi beban dan permasalahan kanker.

Faktanya, dalam catatan dan proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus baru dan kematian akibat kanker di dunia meningkat signifikan.

Sebanyak 14 juta manusia hidup berpenyakit kanker pada 2012 dan diproyeksikan akan menjadi 26 juta pengidap pada 2030. Saat ini, 8,2 juta orang meninggal setiap tahun akibat kanker di seluruh dunia.

Kanker tertinggi pada perempuan ialah kanker payudara, kemudian kanker leher rahim atau serviks. Sedangkan pada laki-laki kanker paru-paru diikuti kanker usus besar atau kolorektal.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatatkan 1,3 juta kasus kanker pada 2016 dengan total biaya pengobatan mencapai Rp2,2 triliun lebih.

Jumlah kasus penyakit kanker merupakan yang terbanyak ketiga yang ditangani dalam program Jaminan Kesehatan Nasional setelah penyakit jantung-pembuluh darah dan gagal ginjal.

Catatan Kementerian Kesehatan pada 2015 menyebutkan kanker menjadi penyebab kematian tertinggi nomor empat di Indonesia setelah stroke, kecelakaan lalu lintas, dan jantung iskemik.

Tak heran pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memanfaatkan momentum Hari Kanker Sedunia memanggil masyarakat Indonesia untuk mengambil aksi dan berpartisipasi dalam pengendalian kanker.

Yang paling ditekankan di sini ialah meningkatkan deteksi dini dan angka penemuan kanker, untuk dilakukan tindak lanjut lebih awal guna meningkatkan kualitas hidup pengidap kanker. Dengan begitu angka kematian akibat kanker dapat diturunkan.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Kemenkes Mohamad Subuh menjelaskan bahwa pemerintah memprioritaskan deteksi dini untuk kanker payudara dan kanker leher rahim yang merupakan kanker dengan jumlah terbesar di Indonesia.

Karena untuk mendeteksi dini ada tidaknya kanker tersebut sangat mudah dilakukan dimulai dari pengecekan pada individu itu sendiri.

“Pemeriksaan yang bisa dilakukan individu dengan cara meraba kemudian memerikasakan. Apabila ada kelainan yang dirasakan secara individu, dianjurkan ke fasilitas pelayanan untuk dilakukan deteksi, diagnosik dini,” ujar Subuh.

Untuk memeriksa gejala kanker payudara hanya perlu dengan meraba untuk mencari benjolan yang sering tidak terasa sakit, dan terdapat perubahan tekstur kulit payudara.

Sementara deteksi kanker serviks dengan gejala seperti haid tidak teratur serta pendarahan spontan tidak pada masa menstruasi bisa dilakukan dengan metode pap smear atau Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Pemeriksaan pap smear sangat sederhana dan bisa dilaksanakan di puskesmas atau bahkan mobil keliling.

Setelah mendeteksi dini secara individu, kemudian lakukan diagnosik dini yang dilakukan dengan alat bantu seperti rontgen atau laboratorium untuk memastikan hasil.

“Kalau deteksi dini dilakukan dan diagnosik dini dilakukan, kita bisa menekan angka kesakitan, menekan angka kematian, dan juga angka kecatatan,” ujar Subuh.

Pencegahan Penyakit Hiduplah dengan perilaku yang bersih dan sehat. Jauhkan diri terpapar asap rokok, apalagi mengisap rokok. Rajin berolahraga, atau sekadar beraktivitas fisik dalam keseharian. Diet gizi seimbang, istirahat cukup, kendalikan stres. Itu semua anjuran klasik.

Memang, tapi hal klasik itu yang terkadang tak dilakukan oleh orang muda dan bisa berakibat gangguan kesehatan saat menjadi manusia tua.

Faktor risiko lain yang memicu munculnya penyakit juga datang dari lingkungan yang tidak bersih, tidak teratur, dan minim tersiram cahaya matahari.

Oleh karena itu Subuh menganjurkan agar masyarakat memperbarui pengetahuannya secara berkala tentang berbagai gejala, faktor risiko, dan pencegahan penyakit. Karena tingkat pengetahuan seseorang, bukan tingkat pendidikan, merupakan salah satu faktor risiko pemicu penyakit pada diri seseorang.

Faktor risiko terakhir, namun yang tidak bisa diintervensi oleh manusia, ialah faktor herediter atau riwayat penyakit yang diturunkan dari keluarga.

Tetapi bayi yang terlahir dengan gen suatu penyakit pada dirinya bukan berarti tidak bisa hidup sehat, karena perilaku hidup sehat dan deteksi dini bisa mengatasi faktor herediter tersebut.

Hanya melakukan beberapa upaya dengan sedikit tenaga serta meluangkan beberapa menit waktu, untuk menginvestasikan kebugaran di masa tua. (jn03/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *