122 Hektare Tanaman Padi di Kudus Puso

  • Whatsapp
ilustrasi

KUDUS, Jowonews.com – Sekitar 122 hektare tanaman padi yang tersebar di enam desa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, puso akibat terendam banjir dalam jangka waktu yang terlalu lama.

“Keenam desa tersebut, yakni Desa Jetis Kapuan, Pasuruhan Lor, Pasuruhan Kidul, Setrokalangan, Banget, dan Garung Kidul,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Harsito di Kudus, Jumat (17/2).

Adapun perinciannya, yakni untuk Desa Jetis Kapuan seluas 5 hektare, Pasuruhan Lor seluas 7 hektare, Pasuruhan Kidul 55 hektare, Setrokalangan 26 hektare, Banget 19 hektare, dan Garung Kidul seluas 10 hektare.

Usia tanaman padi yang puso, katanya, bervariasi, karena ada pula yang memasuki usia panen.

Sementara luas areal persawahan yang tergenang banjir, kata Harsito, mencapai 1.129 hektare yang tersebar di lima kecamatan.

Kelima kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Jekulo, Jati, Kaliwungu, Undaan dan Mejobo.

Ia mengatakan ketinggian genangan yang hanya setengah dari ketinggian tanaman, biasanya masih mampu bertahan hingga dua pekan.

Sebaliknya, kata dia, ketika genangan air mencapai pucuk tanaman, maka tanaman tersebut hanya mampu bertahan sekitar lima hari.

Tanaman padi yang puso tersebut, lanjut dia, tergenang hingga pucuk tanaman.

Adapun kerugian dari 122 hektare tanaman padi puso, diperkirakan mencapai Rp 732 juta.

Sementara potensi penghasilan yang seharusnya diterima petani, kata dia, setiap hektarenya bisa mencapai Rp20 juta.

“Jika saja mereka bersedia mengikuti program asuransi petani, tentunya akan mendapatkan ganti rugi sehingga bisa menanam kembali,” ujarnya.

Hanya saja, kata dia, mereka belum tertarik meskipun sudah mendapatkan sosialisasi.

Untuk membantu meringankan beban mereka, katanya, akan diusulkan mendapatkan bantuan bibit tanaman padi.

Ia mengaku, belum bisa memperkirakan pengaruhnya terhadap pencapaian target produksi padi selama 2017, mengingat masih dalam proses pendataan.

Dengan adanya banjir, dia berharap, petani mempertimbangkan untuk mengikuti asuransi tani melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), di samping masih disubsidi pemerintah.(jn22/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *