Ribuan Orang Hadiri Festival Jenang Solo

  • Whatsapp
sumber : Surakarta.go.id

SOLO, Jowonews.com – Ribuan orang pengunjung mengikuti dengan antusias Festival Jenang Solo 2017 yang berlangsung di kawasan Ngarsopuro Triwindu, Surakarta, Jumat, dengan mengambil tema “Pesona Jenang Nusantara”.

Pada acara festival jenang yang kelima tahun ini, dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-272 Kota Surakarta, dengan membagikan lebih dari 10.000 takir berbagai jenis jenang kepada masyarakat secara gratis.

Selain itu, acara festival jenang juga diawali dengan kirab gunungan jenang ada sebanyak 17 jenis yang jumlahnya 272 takir atau sesuai Hari Jadi Kota Surakarta dimulai dari Stadion Sriwedari menuju kawasan Ngarsopuro Triwindu Solo.

Gunungan jenang yang dikirab setibanya di kawasan Ngarsopuro, Wali Kota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo secara simbolis membuka festival jenang dengan membagikan kepada masyarakat dan diikuti ratusan peserta lainnya yang sudah menyiapkan untuk makan bersama.

Menurut Ketua Panitia Festival Jenang Solo 2017, Saptabdo Hijri Safara, Yayasan Jenang Indonesia menggelar Festival Jenang Solo 2017 ini, lebih tertib dan jumlah pengunjung meningkat dibanding tahun sebelumnya ada sekitar 10.000 orang lebih memadati lokasi.

Menurut Saptabdo Hijri Safara festival tahun ini, merupakan bentuk komitmen dari Yayasan Jenang Indonesia dalam melestarikan dan mempopulerkan makanan tradisional khususnya jenang atau bubur di seluruh wilayah Indonesia.

“Kami tahun ini, karena juga menghadirkan jenang dari Nusantara antara lain Jambi, Lampung, Palembang, Manado, Kalimantan Barat, Banjarmasin, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Timor Leste. Hal ini, membuat kuat pesona jenang sebagai tradisi Indonesia,” katanya.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan dengan festival jenang tersebut rakyat Solo semakin bersatu, Kebhinekaan terus dirawat, sehingga mampu membangun untuk kesejahteraan masyarakat baik lahir maupun batin.

Menurut Hadi Rudyatmo semua jenis jenang ada filosofinya merupakan proses kehidupan manusia yang dimulai dari awal atau hidup menderita hingga sejahtera secara bertahap. Masyarakat zaman dahulu tidak bisa menanak nasi, mereka makannya jenang.

“Kami berharap dengan adanya jenang lemu kesejahteraan masyarakat Kota Surakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya semakin kelihatan dan pertumbuhan ekonomi semakin meningkat,” kata Rudyatmo.

Menurut Rudyatmo simbol jenang lemu tersebut masyarakat sejahtera lahir batin, dan merasakan semuanya kenikmatan dalam bermasyarakat dan bernegara. Jenang merupakan bagian warisan budaya yang harus dilestarikan. apalagi adanya Undang Undang No. 11/2010, tentang warisan budaya yang ada di Republik Indonesia khusus di Solo.

“Kami mempunyai kewajiban untuk melestarikan, mengamankan dan merawat,” katanya.

Rudyatmo berharap dengan festival jenang tersebut dapat dikenal hingga ke luar negeri, sehingga banyak turis yang berdatangan ke Indonesia untuk mencari makanan khas masyarakat yang mempunyai hingga 17 jenis jenang.(jn22/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *