Sosialisasi Asuransi Nelayan Digencarkan

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti gencar dalam menyosialisasikan program asuransi nelayan yang bermanfaat untuk menjadi jaring pengaman bagi kalangan nelayan dan anggota keluarganya.

“Di laut, nelayan jarang tahu apa itu asuransi nelayan. Setiap saya ke daerah, pokoknya saya minta info pemda setempat, daerah mana saja yang nelayannya belum didaftarkan asuransi,” kata Menteri Susi dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (8/4).

Menteri Susi mengemukakan bahwa bila ABK kapal tidak masuk ke dalam asuransi karena dia adalah anak buah kapal dari perusahaan tempatnya bekerja.

Dia juga mengutarakan rasa optimistisnya bahwa sektor perikanan Indonesia pasti akan pulih dan kembali berjaya tanpa merusak laut dan biota yang ada di dalamnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan menyadari ada oknum yang bermain dan menentang berbagai kebijakan baik yang telah dikeluarkan KKP.

Untuk itu Susi Pudjiastuti menegaskan bahwa dalam birokrasi hal-hal seperti itu harus dihilangkan dan seharusnya berjuang bersama.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR Andi Akmal Pasluddin menyoroti permasalahan tingkat kesejahteraan nelayan tradisional yang dinilai masih memprihatinkan.

“Meskipun pada akhir 2015, KKP mengklaim kesejahteraan nelayan membaik dengan alasan Nilai Tukar Nelayan meningkat dari 104 di tahun 2014 menjadi 106 tahun 2015, namun 2016 banyak pihak mengatakan bahwa kesejahteraan nelayan pada tataran yang terpuruk,” kata Andi Akmal Pasluddin, Kamis (6/4).

Politisi PKS ini menguraikan, bahwa DPR dengan segenap upaya memberikan porsi APBN di tiap tahunnya untuk program kesejahteraan nelayan, serta penerapannya, persetujuan penambahan anggaran bantuan kapal, alat tangkap ikan di laut dan program pelepasan benih ikan, dinilai juga menjadi perhatian serius di DPR.

Namun pada kenyataannya, lanjutnya, realisasi bantuan kapal baik prosedur dan jumlah tiap daerah pusat nelayan masih perlu evaluasi.

“Bahkan program asuransi yang sulit dan banyaknya keluhan para nelayan pada sulitnya persyaratan pengajuan bantuan kapal turut menghambat terealisasinya program KKP yang berbasis kesejahteraan masyarakat nelayan,” jelas anggota Badan Anggaran DPR ini.

Nelayan kecil, lanjut Andi, tidak dapat berdiri sendiri karena keterbatasan sumber daya sehingga hanya dengan campur tangan pemerintah, segala upaya kesejahteraan nelayan kecil dapat terwujud.(jwn4/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *