Atap dan dinding puluhan rumah yang sudah di cat berwarna-warni terlihat dari Jembatan Brantas di Jodipan, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/6). Pengecatan atap dan dinding rumah di kawasan pinggir sungai Brantas tersebut dilakukan pemuda Karang Taruna setempat untuk menghilangkan kesan kumuh sekaligus menjadikan kawasan tersebut sebagai obyek wisata seperti di kota Cingue Terre - Italia. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc/16.

BATANG, Jowonews.com — Komite Penyelidikan Pemberantasan, Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme Jawa Tengah, menilai pembentukan “Kampung Warna-Warni” yang digagas oleh Pemerintah Kota Semarang justru akan memboroskan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.

Peneliti Senior KP2KKN Eko Haryanto mengatakan bahwa ide pembentukan “Kampung Warna-Warni” yang digagas oleh Pemkot Semarang sudah tidak orsinal lagi karena meniru daerah lain. “‘Kampung Warna-Warni’ Semarang bukan ide orisinil dan justru berpotesi memboroskan APBD,” katanya di Batang, Jumat (19/5).

Ia mengatakan pembentukan “Kampung Warna-Warni” akan dianggarkan oleh Wali Kota Semarang Rp16 miliar sebagai upaya untuk penambahan fasilitasnya. “Hanya saja, sayangnya hal ini justru berpotensi memboroskan keuangan daerah. Oleh karena, kami menyarankan dibatalkan,” katanya.

Ia mengatakan dengan tambahan anggaran Rp16 miliar, sebaiknya, Pemerintah Kota Semarang mengalihkan dana tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Kami menilai pembentukan ‘Kampung Warna-Warni’ tidak ada kaitannya untuk meningkatkan kesejahteraan daerah,” katanya.

Ia menambahkan anggaran Rp16 miliar lebih baik dialokasikan untuk kegiatan prioritas yang lebih bersentuhan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (jwn5/ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here