Petani Purbalingga Kembangkan Agrowisata Petik Buah Labu Madu

  • Whatsapp

PURBALINGGA, Jowonews.com – Petani hortikultura, khususnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Bangkit Lestari, Desa Pakuncen, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menggagas pengembangan agrowisata petik buah labu madu (Cucurbita moschata).

“Jika di beberapa tempat di Purbalingga ada wisata petik buah jambu, petik stroberi, kami mencoba mengembangkan agrowisata petik buah labu madu. Mungkin bentuknya yang unik dan belum banyak ditanam petani sehingga sangat menarik,” kata salah seorang pengurus Kelompok Tani Bangkit Lestari Bambang Nuryono di Desa Pakuncen, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, Selasa.

Ia mengatakan buah labu madu yang dikenal dengan sebutan “pumpkins butternut” atau “butternut squash” itu berbentuk seperti kacang tanah dengan ukuran besar.

Menurut dia, labu itu memiliki rasa yang manis dengan tekstur lembut serta mengandung serat yang tinggi, antioksidan, beta-carotene, vitamin A, dan vitamin B kompleks.

Bahkan, kata dia, buah labu madu diyakini sangat baik jika dimanfaatkan sebagai makanan pendamping air susu ibu (ASI) untuk bayi.

“Tingkat kemanisan akan semakin meningkat setelah buah disimpan minimal dua bulan. Daya simpan buah juga bisa mencapai enam bulan,” kata dia yang juga Ketua Petani Hortikultura Purbalingga.

Terkait rencana pengembangan agrowisata petik buah labu madu, dia mengatakan hal itu sangat memungkinkan karena Desa Pakuncen berada di sebelah Desa Wisata Limbasari yang dikenal dengan kampung batiknya.

Selain itu, kata dia, Desa Pakuncen juga merupakan bagian hulu Sungai Klawing yang sering digunakan untuk kegiatan “rafting” atau arung jeram.

“Prasarana jalan juga sangat mendukung, untuk mencapai kebun kami sangat mudah. Tempat parkir luas karena dekat dengan lapangan sepak bola,” katanya.

Kendati demikian, pria yang akrab disapa dengan nama Yoyon itu mengaku belum menyiapkan harga paket untuk agrowisata petik buah labu madu.

Ia mengatakan saat ini, kelompok masih sebatas menjual dengan harga sekitar Rp20 ribu per kilogram meskipun harga jual di toko-toko modern Jakarta berkisar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.

“Bagi pengunjung yang ingin berfoto-foto, kami tidak melarangnya. Selain buah labu madu, kami juga mengembangkan tanaman hortikultura lainnya seperti melon hijau dan melon kuning,” katanya. (JWN3/Ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *