SEMARANG Jowonews.com – Wakil Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah Hadi Santoso menceritakan dua embung yang kini diaktifkan kembali sebagai cadangan air bersih yang terletak di Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri.

Dua embung tersebut adalah embung Gudangharjo dan embung Pego yang bisa menjadi cadangan air bersih warga saat musim kemarau tiba.

“Saat kunjungan kerja ke Wonogiri, daerah di Kecamatan Paranggupito termasuk salah satu daerah yang rawan kekeringan saat musim kemarau datang dan dengan diaktifkannya kembali dua embung tersebut, nantinya saat kemarau masyarakat akan berbondong bondong ke embung,”katanya pada Jumat (12/1) di Kota Semarang.

Saat ini, pembangunan dua embung yang menghabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jateng sebesar Rp 5,276 miliar tersebut sudah jadi. Dia berharap pemerintah diharapkan untuk menyediakan akses terbaik untuk masyarakat mengingat cara pengambilan air hanya dengan cara menimba.

“Alhamdulillah, embung sudah jadi, ini sangat membantu sebagai cadangan air bersih. Tetapi saat kemarau nanti Embung ini nanti bisa seperti pasar ramainya, warga akan mengantri di sini, ruang aksesnya harus diperluas,”jelasnya.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan bahwa embung tersebut sudah ada sebelumnya, kemudian dilakukan perbaikan dan pembangunan kembali. Pemanfaatan dua embung yang berada di desa gedungharjo tersebut hanya untuk cadangan air bersih saja.

“Pemanfaatan embung Gudangharjo dan embung Pego ini hanya untuk cadangan air bersih. Bukan untuk pertanian. Karena sumber air di daerah ini hanya tadah hujan, jadi kita fokuskan di embung ini penampungannya,”kata legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Secara konstruksi, Hadi menyebut bahwa embung Gudangharjo dan embung Pego yang baru selesai pengerjaannya pada desember 2017 memiliki fungsi sama. Hanya bentuk yang berbeda dan dasaran embung Gudangharjo yang tidak menggunakan geomembran. Kedua embung selesai dalam 180 hari pengerjaan dan menelan biaya untuk embung Gudangharjo Rp 3,737 miliar, sedangkan embung Pego Rp 1,538 miliar.

“Karena baru selesai akhir tahun ini, yang itu sudah masuk musim hujan, jadi belum dipakai. Musim kemarau depan kita akan lihat bagaimana optimalisasi dua embung di Gudangharjo untuk membantu masyarakat,”pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here