Ketua DPW PKB Jateng Muhammad Yusuf Cudhlori saat menyampaikan pemaparan dalam konpers Sudirman-Ida. (Foto: Teguh P)

MAGELANG, Jowonews.com – Masyarakat desa harus terus menjaga semangat guyub, termasuk dalam menghadapi ramainya perkembangan informasi melalui teknologi informasi dan dinamika tahun politik, kata pemimpin Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Kabupaten Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori yang akrab dipanggil Gus Yusuf.

“Menghadapi tahun tahun seperti ini, banyak informasi berseliweran, kita jaga bersama-sama kerukunan. Kalau ada kabar, tanya dulu ke kiai, lurah, sesepuh supaya tidak gampang diadu domba,” kata Gus Yusuf di Magelang, Minggu, saat memberikan tausiyah pada perayaan satu tahun kelompok kesenian Sanggar Batara Desa Jurang, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Perayaan ulang tahun sanggar yang dipimpin tokoh masyarakat setempat, Sujono itu, selain ditandai dengan pengajian juga pementasan berbagai kesenian desa setempat dan para seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang.

Ia mengingatkan pentingnya masyarakat, terutama kaum muslim, menjaga warisan para wali, kiai, dan ulama yang telah menyebarkan ajaran Islam sebagai “rahmatan lil alamin” karena mereka sebagai “benteng” Indonesia.

Masyarakat Indonesia, ujar dia, hidup dalam negara Pancasila yang menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan dalam kehidupan bersama.

“Sesok ono (Besok ada, red.) pilbup, pilgup, pilpres. Kalau tidak hati-hati bisa ‘mblenger’ (mual, red.),” ujar Gus Yusuf yang juga tokoh spiritual Komunitas Lima Gunung itu.

Ia mengingatkan bahwa tahun politik ditandai dengan mengemukanya perbedaan pilihan masyarakat.

“Pilihan boleh berbeda, tetapi kita tetap Indonesia. Dijaga bersama-sama. Insya Allah kalau bisa berpikir secara jernih, tidak gampang diadu domba,” katanya.

Ia juga mengajak setiap orang untuk menghormati perbedaan terhadap orang yang berkeyakinan dan beragama lain.

“Hormati keyakinan orang lain,” ujarnya sambil mencontohkan salah satu ajaran kebaikan Sunan Kudus pada masa lampau yang dilestarikan hingga saat ini oleh umat Islam setempat, terkait dengan larangan menyembelih sapi untuk menghargai keyakinan umat Hindu.

Pengajian juga diberikan Ustadzah Mumpuni dari Cilacap, sedangkan berbagai kesenian oleh sejumlah kelompok seniman, antara lain musik madyapitutur, tari soreng, tari bocah gunung, tari pemburu kijang, tari golek suyung dayung, sendratari arga buwana, wayang kontemporer, tari kukila gunung, kolaborasi soreng truntung kipas mega, soreng putri, goh muka, kuntulan, gojek bocah, kuda lumping, dan tari alang-alang.

Acara tersebut juga menjadi keramaian desa setempat, yang antara lain ditandai dengan puluhan orang menggelar berbagai makanan, minuman, dan mainan anak.

Panggung pertunjukan yang luas di tengah kampung itu dihiasi instalasi dari bahan alam berupa “Goh Muka” (kepala Dasamuka, dalam tokoh pewayangan).

Tarian Goh Muka yang berupa gerak tari pencak silat diiringi gamelan sebagai ikon seniman Sanggar Batara Bandongan, salah satu grup dalam Komunitas Lima Gunung. (JWN3/ANt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here