Rumah Zakat Gencarkan Gerakan Subuh Berjamaah di Wonogiri

  • Whatsapp

WONOGIRI, Jowonews.com – Pagi masih dalam embun yang membasah. Matahari pun masih bersembunyi di balik ufuknya. Ketika puluhan warga berduyun-duyun mendatangi Masjid Nurul Huda Karangasem Ngancar Giriwoyo Wonogiri, Ahad (13/1/19).

Ada yang datang dengan berjalan kaki. Ada pula yang berboncengan dengan suami. Bahkan serombongan santri TPQ dari dusun sebelah beramai-ramai mengayuh sepeda menuju lokasi. Semua berpaut pada satu tujuan memakmurkan Gerakan Subuh Berjamaah di pertengahan Januari.

Meski sekilas terlihat sama, ada hal mendasar yang berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Acara di awal tahun tersebut justru dikemukakan oleh pegiat Majelis Taklim Annisa Karangasem Ngancar, Siti Syamsiyah. Ia mengemukakan untuk menindaklanjuti acara di bulan sebelumnya yang lebih ditujukan kepada para santri TPQ. “Acara Subuh Berjamaah bagus untuk ditindaklanjuti. Menarik,” tutur Siti Syamsiah.

Ide tersebut dikemukakan saat arisan ibu-ibu RT 01.  Selanjutnya, ibu kaduslah yang menawarkan diri untuk menyampaikan di pertemuan 2 RT lainnya. Akhirnya, Majelis Taklim Annisa bersama Takmir Masjid Nurul Huda bersama Rumah Zakat pun mendukung kegiatan tersebut.

H-1, ibu-ibu memutuskan untuk memasak arem-arem bersama sekaligus membungkus snack di rumah salah satu warga. Sartini, sang tuan rumah justru berbahagia bisa terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Rumahnya yang nyaris tak berjarak dengan masjid selalu menjadi pusat pelayanan bagi jamaah salat. Pun saat Ramadan.

Pagi itu, beragam acara sudah dipersiapkan. Pasca salat Subuh, jamaah berkesempatan mendapatkan siraman rohani melalui kultum yang disampaikan oleh Teguh Supriyanto Ketua Badko Giriwoyo. Keutamaan salat berjamaah yang dinukil dari hadits riwayat Imam Ahmad menjadi topik yang diangkat.

Tak lama, serambi masjid telah dipenuhi para santri TPQ, remaja dan para ibu. Bapak-bapak lebih memilih berada di teras rumah warga, milik Sartini.

Snack dan arem-arem yang sudah tertata rapi di depan masjid segera berpindah posisi. Uap segar teh panas yang mengebul semakin menggugah rasa untuk segera menikmati.

Beberapa ibu muda memberikan paket sarapan dan minum kepada para jamaah. Sekilas, suasana yang ada mirip saat berbuka bersama maupun pasca tarawih di Bulan Ramadan.

Beberapa saat kemudian, para bapak meninggalkan lokasi. Sisanya masih berkumpul di pelataran masjid untuk bersenam.

Fandi, seorang instruktur senam profesional semula akan memandu. Namun karena mendadak ada acara penting, akhirnya Relawan Inspirasi Rumah Zakat Desa Berdaya Ngancar, Nofrida AP berinisiatif untuk menggantikan.

Pemanasan pun dilakukan. Tak lama, peserta senam diajak melakukan Senam Penguin. Semua bersemangat. Suasana menjadi heboh. Gelak tawa pun pecah.

Ibu-ibu yang didominasi para lansia, kasepuhan justru yang terlihat bersemangat. Tangan dan kaki digerakkan sesuai irama. Berputar bersama bak seekor penguin yang lincah.

Untuk memudahkan peserta mengingat dan mengikuti gerakan, Nofrida memberi istilah khusus. “Nawu banyu” (menguras air), memompa, “nginteri” (membersihkan kotoran pada beras dalam tampah bambu secara berputar), “mumet” (pusing, saat ada gerakan meletakkan tangan di kepala). Unik, menggelikan, namun lebih memudahkan.

“Alhamdulillah, pegel-pegel kula ical, mbak. Niki yen rutin nggih sae,” tutur seorang ibu. Bersyukur karena senam yang tak memakan waktu lama tersebut ternyata mampu menyegarkan badan dan mengusir pegal. (JWN3)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *