Literasi Kurang Efektif Tangkal Hoaks

  • Whatsapp
ilustrasi

JAKARTA, Jowonews.com – Pakar Saraf dari Institut Pertanian Bogor Berry Juliandi menyampaikan bahwa literasi informasi kurang efektif menangkal penyebaran kabar bohong atau hoaks.

Berry yang ditemui dalam diskusi “The Science Behind Hoax” di Jakarta, Senin (18/2) membenarkan bahwa pendapatnya tersebut berbeda dengan opini sejumlah pakar, yang selama ini mengelukan literasi sebagai upaya peredam hoaks.

Ia menjelaskan salah satu penelitian yang dikeluarkan Yale University menyebutkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin rentan terpapar hoaks.

Berpegang pada hasil penelitian tersebut, Berry kemudian menyimpulkan bahwa upaya literasi bukan langkah tepat memotong rantai hoaks.

Menurut dia, metode menurunkan kecemasan dan keraguan seseorang melalui permainan otak, menjadi salah satu alternatif yang bisa digunakan untuk menghalau hoaks.

Misalnya, kata dia, tentang hoaks vaksin yang membuat orang menolak menggunakannya.

“Kita tanyakan keraguannya di mana? Setelah tahu alasan seseorang menolak menggunakan vaksin, maka kemudian kita ‘sentuh’ keraguannya dan kecemasannya dengan menyerang amigdala (Bagian otak yang bertanggung jawab untuk mendeteksi rasa takut, red.),” ujar dia.

Ia menjelaskan tentang pentingnya meredam ketakutan dan mengatasi keraguan atas suatu informasi sehingga seseorang kemudian lebih rasional.

“Caranya dengan kita jelaskan manfaat penggunaan vaksin, kita redam ketakutannya dengan memberi informasi soal anjuran agama terkait vaksin. Jadi informasi ini menyerang amigdala, yang menurunkan ketakutan dan menjadikannya lebih rasional, sehingga yang sulit diterima lebih mudah masuk,” kata Berry.

Pakar Hubungan Sosial dari Universitas Indonesia Roby Muhamad menambahkan salah satu alasan seseorang mudah menerima informasi karena berita yang didapatkan berkaitan dengan harapan maupun ketakutannya.

“Dengan demikian, nilai-nilai yang dibawa dalam sebuah informasi, terkadang membuat penerimanya menjadi tidak rasional,” katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, metode “menyerang” amigdala menjadi langkah yang patut dicoba untuk memerangi kabar bohong yang kian marak.

“Dengan catatan, kita tidak menyalahkan apa yang diyakini sebelumnya. Karena kalau sudah menghakimi nilai-nilai yang dianut, orang yang terpapar hoaks malah akan defensif. Jadi dia tidak mau menerima informasi baru, tidak rasional, dan lebih ke emosional,” kata Roby. (JWN3/Ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *