Empat Isu Negatif Yang Harus Diwaspadai Jelang Pemilu 2019

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Ketua DPP Masjid Agung Jawa Tengah Noor Achmad meminta masyarakat Jateng makin waspada terhadap munculnya empat isu negatif yang sengaja diembuskan kelompok tertentu untuk merusak sendi-sendi persaudaraan di tengah masyarakat menjelang Pemilu 2019.

“Masyarakat diharapkan tidak terpancing dan terprovokasi,” kata Prof. Dr. H. Noor Achmad, M.A. saat dialog interaktif live di studio TVKU, Senin, dengan host Myra Azzahra dan menampilkan narasumber lainnya, yakni Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah Prof. Dr. K.H. Ahmad Rofiq, M.A.

Bacaan Lainnya

Keempat isu negatif itu, kata Prof. Noor Achmad, antara lain isu hoaks melalui media sosial. Berdasarkan survei terkini yang beredar menyebutkan informasi di medsos 85 persen lebih masuk kategori hoaks. “Hal ini sebagai keadaan kritis yang harus dieliminasi,” katanya.

Isu kedua, lanjut Noor Achmad, munculnya gerakan kampanye berkedok agama yang menyebar luas di tengah masyarakat hingga masjid dan musala. Isu tersebut sangat membahayakan masyarakat sehingga harus diwaspadai. Misi gerakannya mencoba mengadu domba agar terjadi perpecahan di tengah umat beragama.

Ketiga, mengembuskan isu ujaran kebencian dengan kata dan kalimat yang tidak pantas, berkonotasi saling menyalahkan serta membenarkan diri sendiri. Keempat, mengembuskan isu SARA bertujuan untuk memecah belah masyarakat.

Atas masifnya empat isu tersebut, kata dia, MUI dan Masjid Agung Jawa Tengah gencar membentengi masyarakat lewat khotbah Jumat maupun tausiyah-tausiyah di setiap kesempatan.

“Tujuannya jangan sampai Jawa Tengah yang selama ini kondusif berubah menjadi ajang pertikaian yang tidak berujung sebagaimana dialami negara-negara Timur Tengah,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah Prof. Rofiq menegaskan bahwa Islam mengatur detail perihal hubungan persaudaraan antarsesama yang harus dirawat dengan baik, sebagaimana Surah Alhujurat 10 s.d. 14.

“Intinya Allah memerintahkan kita untuk membangun perdamaian di antara sesama. Tidak boleh mengolok-olok yang lain karena belum tentu kita lebih baik dari yang kita olok-olok. Maknanya, bila perbedaan di dalam masyarakat dirawat dengan baik, akan menjadi kekuatan yang dahsyat,” katanya.

Senada dengan Rofiq, Prof. Noor Achmad berpendapat bahwa solusi dari kondisi kritis tersebut dalam memilih calon presiden dan wakil presiden jangan terkena hipnotis atas masifnya empat isu negatif tersebut. Artinya, masyarakat agar memilih berdasarkan rasio yang matang.

Rofiq menambahkan bahwa pemilu sebagai hal biasa, agenda lima tahunan. Dalam melaksanakan pemilu yang utama justru menjaga persaudaraan. Apalagi dengan tetangga.

“Dua calon presiden yang muncul mungkin ada yang menganggap belum ideal untuk memimpin bangsa,” katanya.

Bila ada yang seperti itu, lanjut Rofiq, minta fatwa pada hatinurani masing-masing untuk memilih dengan segala risikonya. Terpenting, Jawa Tengah sebagai baromoter politik nasional, harus dijaga dan dirawat agar tetap kondusif. (jwn5/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *