28 Museum se-Indonesia Ikuti MGtC 2019 di UNS

  • Whatsapp

SOLO, Jowonews.com – Sebanyak 28 museum meramaikan pelaksanaan “Museum Goes to Campus” Ke-4 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan tema “Keberagaman Sebagai Dinamisator Peradaban”.

Pada pembukaan di Solo, Selasa, Rektor UNS Jamal Wiwoho mengatakan dari museum masyarakat dapat melihat gambaran tentang suatu peradaban dan budaya daerah masa lalu, masa kini, dan untuk bekal pada masa mendatang.

Bacaan Lainnya

“Melalui museum masyarakat bisa ikut merasakan dan melihat bagaimana para pendahulu membangun suatu peradaban yang tetap eksis dari masa ke masa. Museum diharapkan tidak hanya memantulkan perubahan-perubahan yang ada di lingkungan tetapi juga sebagai media untuk menunjukkan perubahan sosial serta pertumbuhan budaya dan ekonomi,” katanya.

Ia mengatakan museum juga berperan dalam proses transformasi yang mewujudkan perkembangan struktur intelektual dan tingkat kehidupan yang membaik.

Oleh karena itu, kata dia, pelaksanaan “Museum Goes to Campus” ke-4 tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh civitas akademika sebagai sarana penelitian ilmiah untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS Warto berharap, dengan dijadikannya “Museum Goes to Campus” sebagai salah satu agenda resmi dalam kalender Pemerintah Kota Surakarta, dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke Solo.

“Harapannya ke depan kegiatan ini tidak hanya dinikmati mahasiswa maupun dosen tetapi juga wisatawan secara umum, khususnya yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap sejarah dan budaya,” katanya.

Ia mengatakan museum yang mengikuti kegiatan itu berasal dari seluruh Indonesia, di antaranya Museum Lokabudaya Universitas Cenderawasih Papua, Museum Keris Nusantara Solo, Perpustakaan Nasional RI Jakarta, dan Museum Bung Karno Blitar.

“Yang menarik, di tahun ini para pengunjung tidak hanya bisa melihat koleksi masing-masing museum tetapi juga bisa memainkan sejumlah permainan tradisional yang disediakan di depan Gedung Aditorium GPH Haryo Mataram oleh Komunitas Wanita Pencinta Sejarah Solo, seperti dakon, gasing, dan bekel,” katanya. (jwn5/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *