Pantauan Dinas Peternakan Boyolali, Perdagangan Hewan Kurban Masih Lesu

  • Whatsapp
ilustrasi, foto : istimewa

BOYOLALI, Jowonews.com – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyebutkan, dari hasil pemantauan arus pedagangan untuk hewan kurban di sejumlah pasar hewan ternak di tengah pandemi COVID-19 masih lesu.

Kepala Disnakkan Kabupaten Boyolali, Bambang Purwadi, di Boyolali, Senin, mengatakan, masyarakat yang mencari hewan untuk kurban seperti sapi di sejumlah Unit Pelaksana Tugas (UPT) Pasar Hewan di Boyolali masih lesu dan belum kelihatan bergairah.

Bacaan Lainnya

Namun, kata Bambang Purwadi, pihaknya yakin perdagangan hewan kurban di Boyolali, diperkirakan mulai bergairah sekitar setengah bulan menjelang Hari Raya Idul Adha.

Bambang Purwadi mengatakan Disnakkan Boyolali persiapan menjelang hari kurban melakukan pengawasan arus perdagangan hewan ternak.

Ia mengemukakan bahwa pedagang setiap mengeluarkan hewan ternak ke luar daerah seperti sapi selalu dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

“Setiap pedagang jika mengirimkan ternak sapi keluar Boyolali selalu menyertakan SKKH. Untuk populasi ternak sapi di Boyolali tahun ini, jenis potong sebanyak 90.000 ekor, sedangkan jenis perah sebanyak 94.000 ekor,” kata Bambang.

Persediaan hewan ternak sapi untuk korban di tengah pandemi COVID-19 di Boyolali masih aman, karena daerah ini, termasuk salah satu pemasok daging di pulau Jawa.

Disnaskan mempunyai petugas di UPT di setiap pasar ternak di Boyolali untuk melakukan pemantauan kesehatan terutama hewan yang akan dipotong untuk dikonsumsi termasuk hewan kurban.

Hewan kurban yang memenuhi syarat antara lain jenis kelamin jantan minimal usia dua tahun, sehat dan fisiknya baik. Pihaknya mendekati hari kurban juga melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di masjid-masjid.

“Boyolali saat ini, tidak ada kasus seperti penyakit antraks dan lain sebagainya. Program vaksin untuk ternak sapi selalu dilakukan setiap tahun terutama di daerah yang pernah mempunyai sejarah penyakit antraks,” kata Bambang.

Dia mengatakan selama pandemi COVID-19 juga berdampak pada jumlah pemotongan hewan sapi di Rumah Pemotongan hewan (RPH) di Ampel Boyolali menjadi turun. RPH Ampel biasa melakukan pemotongan rata-rata sebanyak 30 hingga 40 ekor per hari. Sedangkan, pemotongan sapi pada hari-hari sebelumnya rata-rata bisa mencapai 40 hingga 50 ekor per hari.

“Stok hewan sapi untuk persiapan hari kurban tahun ini, cukup banyak karena Boyolali salah satu lumbung ternak yang sering dikirim ke Jawa Barat dan Jakarta. Stok hewan sapi untuk kebutuhan syarat kurban rata-rata sekitar 10.000 ekor,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya mengimbau masyarakat yang jauh hari sudah mencari hewan ternak untuk kurban harus memperhatikan kondisi sehat ternak, usia minimal dua tahun, tidak cacat, dan gigi sudah memenuhi syarat kurban.

Tumar (50) salah satu pedagang hewan sapi di Selo Boyolali mengatakan arus perdagangan hewan ternak kurban masih lesu dan belum tampak peningkatan aktivitas jual beli perdagangan.

“Harga sapi kurban usia minimal dua tahun di Boyolali mencapai Rp45.000 per kilogram hewan hidup. Harga hewan sapi kurban minimal ditawarkan sekitar Rp20 juta ke atas,” kata Tumar. (jwn5/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *