Ketika Kebun Berubah Menjadi Lautan

  • Whatsapp
LAUTAN: Ahmad Syarif (34) di depan rumahnya yang dikepung lautan air. Sebelumnya, sekeliling rumah adalah kebun palawija. (foto: Jowonews)

DEMAK, Jowonews- Tahukah Anda, jika 22 tahun lalu lautan tambak dan air rob foto di atas adalah kebun palawija yang subur?

“Saat saya SD saya biasa bermain di situ, kebun jagung, pisang dan kelapa di belakang rumah. Hijau royo-royo. Namun selepas tahun 1999 air laut mulai masuk. Dan semakin parah setiap tahunnya,” ujar Ahmad Syarif (34) , warga Dusun Nyangkringan, Desa Sriwulan, Sayung, Demak, mengenang masa kecilnya.

Saat itu, sambung Syarif, air laut ditemui di pantai saja. Yakni sekitar 1,5 kilometer jauhnya dari rumah tempat dia tinggal.

“Namun abrasi air laut terus menggerus daratan di sini. Tanah mulai amblas. Rumah dan bangunan pun mulai tenggelam,” ujar ustadz muda alumnus LIPIA Jakarta ini kepada Jowonews, Ahad (2/8).

Kebun palawija yang subur pun tergenang air laut yang semakin dalam setiap tahun. Sehingga masyarakat akhirnya mulai mengubah kebun mereka menjadi tambak-tambak ikan bandeng.

Sementara rumah-rumah yang masih tersisa harus ditinggikan agar tetap bisa dihuni. Jika tidak, air akan memenuhi seluruh ruangannya hingga tenggelam, terang Syarif.

Amblas 10 Cm/Tahun

“Diperkirakan, permukaan tanah di sini amblas 10 centimeter setiap tahun. Jadi mau tak mau kami harus meninggikan rumah secara rutin agar tidak ikut tenggelam,” ungkap dia.

BERATAP RENDAH: Sekadar untuk bisa masuk rumah
warga harus tundukan kepala (Foto: Jowonews)

Tak heran jika rumah-rumah di Dusun Ngangkringan kebanyakan beratap rendah. Bahkan kita harus menundukkan kepala ketika melewati pintu masuk rumah. Berdiri tegak tak dapat kita lakukan di dalam rumah.

Selain itu, warga Nyangkringan juga harus siap terkena air pasang rob setiap hari. “Biasanya pada pagi hari air pasang naik. Jadi pekarangan rumah yang tadinya belum tergenang pun pasti akan terendam air rob. Dan baru surut ketika menjelang siang,” terang Syarif.

TERENDAM: Pekarangan mesjid pun terendam air rob
(Foto: Jowonews)

Dalam pengamatan Jowonews pagi tadi, memang hampir semua rumah di dusun ini sudah terendam rob. Termasuk pekarangan mesjid pun tak luput dari naiknya air pasang ini.

Namun air tidak bisa masuk ke dalam rumah atau mesjid. Karena bangunannya sudah ditinggikan.

Wah, cukup menantang juga ya hidup di dusun ini. Hidup dalam kepungan air rob.

Bagaimana cara warga Dusun Ngangkringan bisa bertahan dalam kondisi seperti ini? Nantikan di tulisan selanjutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *