Memanfaatkan Waktu

  • Whatsapp
ILUSTRASI: Waktu (sumber: Freepic)

Oleh: H. Aji Sofanudin, Takmir Masjid Al-Ittihad Pasadena Semarang

Dalam hadits, rasul sering mengingatkan kepada kita “dua nikmat yang sering dilupakan (disia-siakan) oleh manusia. Yakni nikmat sehat dan nikmat waktu”.

Bacaan Lainnya

Dalam hadits yang lain, Rasulullah juga mengingatkan pergunakankan yang lima sebelum datang yang lima yakni:

إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ, شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ, وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ, وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ, وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ, وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) waktu kayamu sebelum datang waktu sakitmu, (4) waktu luangmu sebelum datang masa sempitmu, (5) hidupmu sebelum matimu

Waktu dalam Al Qur’an

Persoalan waktu merupakan tema penting di dalam al-Qur’an. Allah berkali-kali bersumpah dengan menggunakan berbagai kata yang menunjukkan pada waktu-waktu tertentu. Seperti wad dhuha (waktu dhuha), waal lail (demi malam), wa an-nahar (demi siang), was subhi (demi waktu subuh), waal fajr (demi waktu fajar), dan sebagainya.

Islam memberikan perhatian yang begitu besar tentang waktu yang merupakan bahan renungan dan perhatian bagi manusia, sehingga al-Quran salah satu suratnya disebut al-Ashr, yang artinya waktu.

Melalui surat al-Ashr, Allah membantah anggapan ada waktu sial, waktu keberuntungan.

Waktu itu bersifat netral. Tidak ada sesuatu yang dinamai waktu sial atau waktu mujur, semua waktu sama. Yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang dalam mengisi waktu.

Inilah yang berperan dalam baik buruknya suatu pekerjaan. “Janganlah kita mencerca waktu, karena Allah adalah (pemilik) waktu”.

Dalam surat tersebut Allah mengingatkan bahwa pada umumnya manusia itu dalam keadaan merugi baik di dunia maupun di akhirat. Totalitas manusia itu merugi karena mereka tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk beriman dan beramal sholeh.

Ketika diberi umur panjang umur, tidak digunakan untuk hal positif tetapi justru itu digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Ketika diberi harta, harta tersebut digunakan untuk menentang Allah, ketika diberi kedudukan, tidak dipandang sebagai amanah, melainkan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Ketika diberi kesehatan juga disia-siakan, lupa kepada Allah.

Barulah ketika ajal sudah dekat, sudah “detik-detik akhir” barulah mereka menyadarinya. Seperti kisah Fir’aun, baru sadar ketika nafasnya sudah tenggorokan.

Makna QS Al-Ashr: 1-3

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *