Jowonews

/*! elementor - v3.17.0 - 08-11-2023 */ .elementor-widget-image{text-align:center}.elementor-widget-image a{display:inline-block}.elementor-widget-image a img[src$=".svg"]{width:48px}.elementor-widget-image img{vertical-align:middle;display:inline-block} Logo Jowonews Brown

Kabar Ndeso

Beras Lokal di Banyumas Kembali Banyak Peminat

wpid-beras_istimewa.jpgBanyumas, Jowonews.com – Maraknya isu peredaran beras plastik sintetis ternyata membuat dampak positif terhadap peningkatan pembelian terhadap beras lokal. Meski selama ini  beras lokal sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat  yang terlihat kusam, namun hal itu mulai berkebalikan saat isu beras plastik muncul.

Kusamnya beras lokal ini sebenarnya bukan karena kurang bersih dalam pengolahannya namun disebabkan kadar sosohnya hanya sebesar 95 persen. Bahkan, beras lokal kualitas premium yang sosohnya 100 persen pun masih kelihatan lebih kusam jika dibandingkan dengan beras impor yang terlihat sangat putih bersih. 

“Derajat sosoh 95 persen berarti masih ada butir bekatul yang menempel. Kalau masih ada butir bekatulnya, informasinya vitamin pada beras itu masih tinggi,” terang, Setyo Wastono, Kepala Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Jumat (22/5) kemarin.

Sementara, penampilan beras palsu itu mirip dengan beras kualitas premium terutama yang impor karena terlihat sangat bening. Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan adanya beras kualitas bagus yang dijual murah.

“Beras kualitas bagus biasanya dijual dengan harga mahal atau lebih tinggi dari beras medium. Namun kalau beras bagus dijual murah, beras itu patut dicurigai sebagai beras palsu atau plastik seperti yang marak diberitakan dalam beberapa hari terakhir,” terangnya.

Ia menjamin beras hasil pengadaan Bulog terbebas dari beras palsu atau sintetis karena melalui proses seleksi yang sangat ketat.

“Beras lokal yang masuk ke gudang Bulog sosohnya 95 persen sehingga kelihatan putih kecokelatan sehingga kalau ada yang mencapai 100 persen, kami akan curiga karena HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sebesar Rp7.300 per kilogram. Padahal kalau beras yang sosohnya di atas 95 persen hingga 100 persen, harganya pasti lebih tinggi, sekitar Rp9.000-Rp10.000 per kilogram,” imbuhnya.

BACA JUGA  Catatan Akhir Tahun - Menjaga "Lumbung Pangan" Melalui Moratorium Hotel

Sebagaimana diketahui, masyarakat Indonesia dalam satu pekan terakhir dikejutkan dengan pemberitaan mengenai peredaran beras sintetis atau plastik di pasaran khususnya di wilayah Bekasi. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan Sucofindo, beras sintetis yang merupakan barang impor itu diketahui mengandung senyawa plasticizer penyusun plastik di antaranya berupa Benzyl butyl phthalate (BBP), Bis(2-ethylhexyl) phthalate atau DEHP, dan diisononyl phthalate (DIN).

Bahan senyawa plasticizer itu sangat berbahaya jikan dikonsumsi manusia karena tidak bisa dicerna oleh lambung dan akhirnya dapat mengakibatkan penyakit kanker. (JN03)

Simak Informasi lainnya dengan mengikuti Channel Jowonews di Google News

Bagikan berita ini jika menurutmu bermanfaat!

Baca juga berita lainnya...