Jowonews

Iklim Usaha di Kudus Belum Terpengaruh Pelemahan Kurs Rupiah

buruh di jateng (Foto : Kompas)
buruh di jateng (Foto : Kompas)

Kudus, Jowonews.com – Iklim usaha di kabupaten Kudus dipastikan belum terpengaruh pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga gelombang unjuk rasa buruh di Jakarta, atas kehawatiran terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal tak sampai merembet ke Kudus.

“Jika kondisi tetap seperti ini, kami rasa pengusaha di sini masih akan tetap bertahan. Justeru yang kita pikirkan adalah jika kondisi makin memburuk. Namun, tentunya kita pengusaha berharap kondisi segera membaik,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kudus, Bambang Sumadiyono, Selasa (1/9).

Menurut Bambang, kondisi saat ini masih lebih baik dibandingkan pada saat terjadi krisis ekonomi 1997/1998 lalu. Kala itu, lanjutnya, setahun sebelum puncak krisis, para pengusaha sudah merasakan gaungnya.

“Saya kita tidak akan sampai parah seperti dulu, saat ini respon pasar masih cukup baik, berbeda dengan kondisi krisis 1997 lalu,” ucap Direktur PT. Indomaju Textindo Kudus ini, saat ditemui di kantornya.

Lantaran itu, pihaknya sampai saat ini sama sekali belum berpikir untuk melakukan PHK atau dengan kata lain efisiensi karyawan. “Kondisi kerja di pabrik yang saya pimpin masih normal, tak ada gejolak,” ujar dia.

Kendati demikian, diakui, saat ini keuntungan yang didapat perusahaan yang dipimpinnya semakin berkurang. Lantaran, bahan baku untuk produksi, maupun suku cadang mesin, sebagian masih harus diimport.

“Jangankan untung, asal masih bisa menutup biaya produksi, perusahaan pasti tetap bertahan,” beber Bambang.

Namun demikian, menurut dia, pemerintah juga tetap harus mengambil langkah antisipasi. Misalnya, memberikan pelatihan keterampilan kepada para buruh, dengan mengoptimalkan peran balai lataihan kerja (BLK).

“Antisipasi kondisi terburuk, jika sekonyong-konyong nanti terkena PHK, buruh sudah mempunyai skil untuk membuka usaha sendiri, dengan modal dari pesangon yang diberikan perusahaan,” urainya.

Menurut dia, antisipasi seperti itu pernah diterapkannya pada saat krisis 1997 silam. “Karena gaungnya sudah terasa sejak 1996, kami intensif memberikan pelatihan keterampilan kepada para buruh. Hasilnya, sebagian buruh yang kena PHK, saat ini justeru sudah sukses menjadi pengusaha,” ucapnya.

Diterangkan, saat itu perusahan yang dipimpinnya juga melakukan PHK massal. Dari sekitar 1.248 buruh saat itu, pihaknya hanya mempertahankan sekitar 200 buruh.

“Kini perusahaan sudah mulai bangkit lagi, saat ini kami mempunyai lebih dari 420 karyawan tetap, dan 45 karyawan training,” terangnya.

Pengurus Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT. Indomaju Textindo, Jayadi, mengatakan pihaknya merasa kondisi saat ini masih tergolong normal. Dia yakin, kondisi saat ini tak sampai memburuk, sehingga mengakibatkan PHK massal, setidaknya di Kudus.”Yang penting kebutuhan dasar masih terpenuhi, saya kira masih dalam kondisi wajar,” ujarnya.

Senada disampaikanm buruh lainnya, Munjiarsih. Diakui, ada ketakutan kondisi akan semakin memburuk. “Tapi kami optimis ndak akan sampai terjadi seperti itu, kami saat ini masih kerja dengan aman dan nyaman, serta masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucap buruh, yang bekerja di pabrik pembuat karung plastik ini. (JN04)

Tinggalkan komentar