Jowonews

Legislator Dorong Perpustakaan Menjadi Market Place

SEMARANG, Jowonews.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih merasa bahwa perpustakaan perlu membuat terobosan baru untuk membuat pusat baca masyarakat menjadi market place, tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Fikri mendorong perpustakaan untuk tidak hanya memberikan pengetahuan dalam bentuk teks cetak atau digital, tetapi juga menjadi salah satu tempat yang nyaman bagi Masyarakat. Jadi masyarakat mendapatkan pengetahuan melalui sarana membaca, tidak hanya membaca.

“Diskusi kita lebih menarik mengenai bagaimana perpustakaan bisa menjadi tempat yang menarik, tidak hanya buku – bukunya, tetapi daya tarik apa yang akan diberikan. Contohnya tentang kearifan lokal yang ada, dongeng untuk anak, mendekatkan dengan masyarakat, dan lain sebagainya,”kata Fikri saat melakukan kunjungan kerja spesifik bersama komisi X DPR RI ke perpustakaan daerah Jateng, baru-baru ini.

Menurut Fikri untuk meningkatkan literasi masyarakat salah satu yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memberikan apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat. Ketika mampu mendekatkan masyarakat dengan taman baca yang ada maka ketertarikan dengan buku bisa dilakukan dengan cara persuasi.

“Mungkin sekarang kurang minat bacanya, tapi sesungguhnya masyarakat itu ingin mendapatkan pengetahuan, jadi kenapa tidak kita berikan. Nanti untuk menarik interaksi masyarakat dengan buku kita lakukan dengan persuasif,” terang legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

UNESCO tahun 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0.001. Artinya, dari 1.000 penduduk hanya satu warga yang tertarik untuk membaca. Sedangkan Hasil survei budaya membaca sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negera yang disurvei.

Menjawab apa yang disampaikan oleh Fikri, Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan (BARPUS) Jateng SP Andriani  mengatakan bahwa di Jateng sedang dilakukan beberapa inovasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Salah satunya adalah bersama dengan komunitas dan instansi lain untuk mendekatkan buku dengan masyarakat, hal tersebut dilakukan dengan berbagai cara unik dan kreatif.

“Saat ini, yang menjadi salah satu konsen kita adalah bagaimana mendekatkan sumber buku kepada masyarakat. Beberapa sudah dilakukan seperti di Wonosobo ada yang menggunakan Kuda, ada juga yang membuatkan taman baca di pusat keramaian seperti di Salatiga,” terang Andriani.

Selain itu Andriani juga menyampaikan bahwa harapannya untuk membuatkan regulasi yang jelas mengenai anggaran perpustakaan desa di dalam dana desa. Sehingga diharapkan setiap desa yang ada nantinya akan ada taman baca untuk masyarakat. (jn03)

Bagikan berita ini jika menurutmu bermanfaat!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Baca juga berita lainnya...