Jowonews

Logo Jowonews Brown

Kabar Ndeso

Warga Gedawang Semarang Gelar Tradisi Apitan

Tari Gambyong (Budaya Indonesia)
Tari Gambyong (Budaya Indonesia)

Semarang, Jowonews.com – Memasuki Bulan Apit atau Dulqo’idah tahun Jawa Hijriyah, warga dikelurahan gedawang, kecamatan banyumanik menyelenggarakan tradisi apitan. Mereka berswadaya menyediakan buah-buahan dan sayur-sayuran dari hasil bumi yang diarak mengelilingi desa, Sabtu (12/9).

Dengan dipandu marching band dari anak-anak yang berjalan paling depan, dibelakangnya diikuti denok kenang dari warga desa tersebut dengan naik mobil, kemudian para ketua RW yang memakai baju adat jawa berjalan, selanjutnya barisan anak-anak SD dengan memakai baju pramuka. Mobil dengan berhiaskan tanaman dari hasil bumi diarak menuju RW 5 kelurahan Gedawang, kecamatan banyumanik, Semarang.

Total ada 9 RW dengan 9 mobil yang dihias dengan hasil bumi berupa sayur, buah dan palawija untuk mengikuti karnival arak-arakan tersebut. Ratusan warga datang dan mengikuti arakan tersebut yang nantinya untuk mendapatkan jatah sayur, buah dan palawija tradisi adat Sedekah Bumi.
Tak ada yang tahu sejak kapan, tradisi ini berawal. Namun tradisi ini telah dilaksanakan secara turun temurun dan diadakan setiap tahunnya ketika telah memasuki Bulan Apit atau atau Dul qo’idah tahun Jawa atau Hijriyah. Tak heran jika tradisi ini juga disebut Apitan. 

“Dari iuran warga inilah pengurus RT menghias mobil pick up denga hasil bumi, yang nantinya dibagi setelah dilakukan arakan. Nantinya Warga akan berdatangan untuk mengambil jatah sayur, buah dan palawija,” kata Nuryanto, SH, yang merupakan lurah dari kelurahan gedawang, sesampai mengarak hasil bumi.
Serangkaian acara dimulai dari hari kemarin dengan berdo’a bersama dimakam sesepuh, warga biasa memanggilnya mbah kramat, yang dianggap sebagai pendiri desa gedawang. Kemudian dilanjutkan pengajian umum. Sedangkan acara puncaknya berupa arak-arakan hasil bumi dari kelurahan menuju RW 5.
Nuryanto, SH, mengatakan jika kegiatan selamatan Apitan atau sedekah bumi ini dilaksanakan turun temurun oleh warga desa dan diadakan setiap tahunnya. Tradisi ini telah menjadi bagian dari doa bersama dan adat istiadat memohon keselamatan kepada Tuhan.

BACA JUGA  Hendi : Anak Muda Semarang Luar Biasa

“Selamatan sedekah bumi ini dilaksanakan untuk mengungkapkan syukur dan terimakasih yang telah dianugerahkan Tuhan lewat bumi. karena sebagian besar warga desa ini memiliki mata pencaharian dengan bercocok tanam,” ungkapnya. (JN14)

Simak Informasi lainnya dengan mengikuti Channel Jowonews di Google News

Bagikan berita ini jika menurutmu bermanfaat!

Baca juga berita lainnya...