Jowonews

Semarang Nominator Kota Sehat

kotaSEMARANG,J owonews.com—Tim Verifikasi Kota Sehat dari Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian PU dan Pera RI menilai Kota Semarang. Rombongan yang diketuai Tutut Indrawahyuni diterima Pj. Walikota Semarang Tavip Supriyanto, didampingi para kepala SKPD terkait di Ruang Rapat Kantor Walikota, Rabu (26/08).

Tujuan lokasi penilaian di antaranya SMA Negeri 1 Semarang, Pasar Rasamala Banyumanik, Kelurahan Rejosari, Kel. Peterongan, Kel. Sampangan. Serta Kelurahan Panggung Lor, Kel. Miroto, Terminal Penggaron, IPLT Terboyo, TPA Jatibarang, dan Kelurahan Ngaliyan.

Pj. Walikota Semarang Tavip Supriyanto menyebutkan, tim penilai merupakan kebanggaan karena Kota Semarang masuk sebagai salah satu nominator kota sehat. “Melalui lomba ini dapat menjadi evaluasi sejauh mana kinerja SKPD karena apa hasilnya nanti dapat menjadi tolak ukur keberhasilan serta dapat menjadi motivasi untuk mewujudkan kota semarang menjadi lebih baik, lebih nyaman, dan lebih sehat,” ujarnya.

Selama ini Forum Kota Sehat telah melakukan sejumlah kegiatan, di antaranya Launching  Kota Sehat, Penguatan FKK Kota Sehat, Sosialisasi Kota Sehat, Kampanye Kota Sehat, dan Pengukuhan Kecamatan sehat dan Kelurahan sehat guna mewujudkan Tatanan Kehidupan Masyarakat sehat dan mandiri,Tatanan Pemukiman dan sarana Prasarana sehat, serta tatanan pariwisata sehat.

Sebagai salah satu bukti bahwa Semarang layak disebut sebagai kota sehat, paparnya, adalah menurunnya angka kematian bayi dan balita dari tahun ke tahun. Per 1.000 kelahiran di tahun 2010, angka kematian bayi adalah sebanyak 16,82 yang menurun menjadi 12,1 di tahun 2011. Semakin menurun di tahun 2014, yaitu 2,9. Sementara untuk kematian balita di tahun 2010 sebesar 20,31, menurun di tahun 2011 yaitu 14,9 kemudian menurun di tahun 2014 yaitu 11,3.

Beberapa program yang telah dilakukan dalam rangka menurunkan angka kematian ibu adalah kelas ibu hamil, pendampingan kepada ibu hamil terutama yang risiko tinggi , peningkatan sarana prasarana pelayanan kesehatan.

Sementara angka kejadian TB paru per 100.000 penduduk pada tahun 2013 menuju tahun 2014 mengalami penurunan yang semula 250 menjadi 224 melalui upaya adanya surveilans penemuan penyakit TB paru-paru dan pendampingan untuk penderita. (JN01)

Tinggalkan komentar